Thursday, March 29, 2007

Perkenalan

Salam Budo!

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bagi anda sebagai pengunjung blog saya ini yang apa adanya namun dengan niat sharing pengalaman, dan knowledge yang saya miliki untuk menambah ataupun menciptakan rasa aman melalui koridor safety awareness, saya harap melalui medium ini bisa berguna bagi pembaca, baik dari golongan seniman bela diri maupun umum.

Saya tergerak untuk fokus dan mendedikasikan sharing di bidang ini karena menurut saya salah satu musuh terbesar kita sebagai orang awam dan juga seniman bela diri adalah ignorance. Mohon maaf bila terjemahan saya kurang tepat sehubungan dengan baru belajarnya kembali bahasa Indonesia sejak saya kembali pulang ke negeri tercinta 7 tahun yang lalu. Namun ignorance yang saya maksud disini adalah ketidak ingin tahuan kita atau ketidak tahuan kita tentang realita dan keadaan yang sebenarnya, yang memang keras, sadis, agresif dan brutal dalam konteks self protection atau seni membela diri (nyawa: anda, keluarga, kerabat dll).

Harus kita akui bahwa dunia seni bela diri yang diekspose melalui berbagai medium media, apakah film, tv, komik dan lainnya telah menciptakan persepsi yang salah, berbahaya dan di mix dengan doktrin atau arahan dari guru/ instruktur seni bela diri yang juga tidak menyentuh aspek ini, sering sekali jerih payah latihan kita bisa lebih mencelakakan diri kita dibandingkan kita tidak belajar seni bela diri apapun. Belum lagi ego yang berlebihan yang bisa menjatuhkan seniman bela diri secara emosional atau lebih horror lagi …secara fisik atau faktor obat/ alkohol yang juga memperkeruh pikiran dan situasi karena pada hakikatnya dalam martial arts musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Nafsu kita, dan semua perbuatan, pikiran, perkataan negative yang jauh dari sifat kesatria… masih ingat dengan film Fearless – Jet Li? Satu example yang cukup bagus tentang keangkuhan, dan nafsu seorang pendekar menjadi “fighter” nomor satu di negeri Cina, karena pada intinya manusia adalah makhluk sosial dan bumi tidak di takdirkan untuk di kuasai oleh “satu” orang atau raja saja. Kelompok mungkin…tapi tidak oleh satu individu, lihat saja sejarah dan baca jatuhnya raja-raja terbesar dan agung karena terlalu serakah dan nafsu menguasai mereka tidak dibendung.

Wah! Maaf jadi sedikit belok ceritanya, ijinkan saya menceritakan background saya. Saya memang lahir di Jakarta, tapi saya besar di Brazil. Brasilia dan Rio de Janeiro adalah dua tempat yang sangat lekat di hati saya karena disinilah saya menghabiskan masa kecil saya. Dan jika anda pernah melihat film Ciudad de Dios atau City of God tentang kekerasan & perang gang di daerah Rio, nah! kurang lebih seperti itulah keadaan Brazil pada masa kecil saya. Sekarang pun demikian walaupun di beberapa daerah sudah tidak separah dulu atau crime infested namun siklus kekerasan di Brazil cukup untuk mengisi sebuah almanac ala Lampu merah dari awal sampe akhir.

Dari Brazil, saya dan kelurga menetap di Venezuela, dan entah kenapa mungkin karena memang segi budget ekonomis atau memang sudah nasib…lagi-lagi keluarga saya tinggal di daerah suburb yang juga lagi-lagi rawan kejahatan. Disinilah saya belajar Karate untuk pertama kalinya, saya ingat sekali metode Sensei saya yang cukup keras namun saya benar-benar lupa nama beliau! (Maaaaaaafkan aku ya Sensei!!!) yang saya ingat beliau sering mengikuti turnaman Kyokushinkai dan bahkan di akui sebagai salah satu representative yang ternama karena pada waktu itu saya diperlihatkan dokumen daftar official World Kyokushinkai representatives yang terpasang di dojo dengan stamp dari main Hombu Jepang.

Disini juga saya mulai bereskperimen layaknya anak kecil yang kebanyakan nonton film action dan juga lingkungan yang keras dimana the smallest fish in the pond sudah pasti jadi bulan-bulanan predator di lingkungan tersebut, secara sengaja atau tidak saya mulai sering berkelahi. Muka saya memang tidak mendukung, babyface, mungkin terlihat lugu bagi orang-orang tertentu namun justru physical appearance inilah yang menjadi faktor pemikat dan faktor “surprise” atau kejutan. Secara fisik saya kecil apalagi jika di deretkan dengan orang Causcasia atau Eropa waduh mirip hobbit dan karena inilah saya belajar untuk mempersingkat segala konfrontasi sesingkat-singkatnya karena saya mengerti bahwa semakin lama saya berlaga semakin kecil pula kemungkinan saya lolos utuh. Bahkan kalo boleh saya sharing taktik saya sangat mirip dengan taktik Jepang di Pearl Harbor haha!

Dari Venezuela, saya dan keluarga kemudian pindah ke Jakarta untuk dua tahun dan disini saya berkesempatan untuk belajar jujutsu memalui Sensei Daniel Payauw yang pada waktu itu Dan III kalo tidak salah. Saya ingat beliau sangat tegas dalam mengajar tapi juga dekat dengan murid-muridnya karena sering ber chit-chat menanyakan kabar muridnya. Beliau juga cukup dekat dengan Bapak Heru Nur Cahyo yang juga menjadi figur prominent di organisasi Institut Jujutsu Indonesia bahkan boleh dibilang salah satu murid kesayangan Bapak Heru karena bisa dibilang mereka bertetangga tapi juga karena Sensei Daniel juga berpotensi. Singkat cerita dalam waktu dua tahun saya berhasil memegang sabuk biru plus! Iya! Terdengar lucu memang namun karena faktor umur saya tidak diperbolehkan mengikuti ujian sabuk coklat padahal materi cokelat sudah saya khatamkan dan saya pun merengek pada Sensei untuk ikut ujian karena saya yakin saya bisa! Sensei Daniel pun bermurah hati untuk mengajarkan materi dan kurikulum sabuk hitam Dan I kepada saya karena selain saya dekat dengan Beliau, entah karena saya punya ingatan motorik yang cukup bagus saya bisa mengingat semua teknik dengan waktu relatif cepat. Namun Beliau tidak mengijinkan saya mengikuti ujian karena pada waktu itu ujian sabuk cokelat dan Dan I sering disatukan dengan tentara khususnya dari Grup Kopassus dan bertempat di Cibubur… dan terkenal cukup keras dan militant, ya maklumlah approach latihan pada waktu itu masih sangat kental dengan militer, plus di zaman Orba siapa yang berani bilang militer salah hahaha! Sebelum saya bisa menunggu umur untuk mengikuti ujian sabuk cokelat dan Dan I, keluarga saya kemudian pindah ke Aljazair.

Di Aljazair inilah mata saya benar-benar terbuka tentang safety awareness dan self protection, pada waktu kami tiba negara Aljazair sedang dilanda perang saudara. Perang antara kelompok pro pemerintah dan kelompok militant fundamentalis yang cukup lama dan stagnant memaksa kelompok fundamentalis untuk menggunakan dirty tactics misalnya penculikan, blokade jalan, perampokan, terror dan bom. Warga Aljazair pada waktu itu juga sangat curiga dengan warga asing dan tidak jarang anak-anak muda berandalan sengaja mentargetkan warga asing untuk diperas dan untuk di intimidasi. Jadi di sekolah pun dan di beberapa daerah cycle of violence sepertinya kembali terulang dan lagi-lagi saya harus ber Bruce Lee atau menjadi Le Karate mec (atau the Karate dude) untuk mendapatkan respek dan paling tidak dipertimbangkan bila memang ingin di incar sebagai korban.

Pepatah yang mengatakan dalam satu kesulitan diberi kedua kemudahan bagi saya terbukti, karena di Aljazair lah saya bertemu dengan Sergeant Zeke. Saya ingat sekali postur beliau yang memang pas sekali untuk poster United States Marine Corps Recruitment. Lehernya pendek bak Mike Tyson, badannya juga kekar dari hasil gemblengan beliau sebagai marinir African American yang sangat berwibawa. Beliau memang ditugaskan di Aljazair sebagai penjaga kedutaan Amerika dan juga tergabung di satuan pengamanan diplomat. Sekolah saya kebetulan bersebrangan dengan rumah dubes Amerika dan sahabat saya kebetulan juga kenal dengan staff dan “orang-orang” dalam di kompleks yang dijaga superketat itu oleh marinir AS. Dari network itulah saya bisa masuk dan walaupun niat saya hanya liat-liat ternyata setelah saya melihat latihan bela diri para marinir saya kemudian sering duduk dan memperhatikan jalannya latihan. Walaupun kadang diusir secara halus tapi saya ngotot dengan berbagai alasan untuk tetap bisa mengagumi jenis latihan yang saya anggap baru karena tidak menggunakan seragam dan approachnya tidak seperti sekolah seni bela diri yang tradisional.

Setelah berkali-kali dan mungkin juga karena mereka akhirnya capai juga menyuruh saya pulang, satu hari Sergeant Zeke menanyakan kepada saya “Do you wanna join the class or just sit there around all day?” Wah!! Saya ingat sekali kata-katanya dan tanpa basa-basi saya langsung berdiri and before I knew it saya belajar combatives langsung dari beliau. Jujur saya tidak pernah menanyakan nama asli dia karena personil marinir yang ditugaskan diperintah untuk tidak membagikan info apapun tentang diri mereka, dan bagi saya nama asli beliau tidak pernah saya permasalahkan asalkan dia baik, mau menjadi teman saya dan mengajar saya ilmu yang berguna. Dan saya pun tidak tahu pasti mengapa dia memutuskan untuk “berbagi” ilmunya kepada saya, konon menurut sahabat saya muka saya mengingatkan dia kepada almarhum adiknya di Amerika namun terlepas dari alasan apapun saya cukup semangat dalam menjalankan latihan walaupun sering dikritik tentang kuda-kuda ataupun habbit saya yang lain yang dalam persepektif “efektif” beliau sebenernya tidak perlu.

Metode mengajar beliau seingat saya sangat halus walaupun beliau memiliki background marinir dan jauh dengan metode IJI yang pada waktu itu sangat keras, dan beliau juga memprogram ulang secara mindset ,teknik dan knowledge yang saya miliki di martial arts agar lebih tajam dalam konteks self defense.

Selama setahun lebih saya berlatih dengan beliau dan saya ingat betul sesi latihan yang terakhir karena dubes Amerika ditarik pulang dan semua kegiatan diplomatik AS di bekukan hingga menunggu situasi di Aljazair membaik, ini terjadi sekitar tahun 1994an dan pada waktu itu hanya beberapa negara saja yang masih menjalankan hubungan diplomatik dengan Aljazair, umumnya negara-negara Arab dan Asia. Foto pun tidak sempat karena saya sama sekali tidak tahu bahwa kegiatan di kompleks itu sudah selesai, dan walaupun saya mencoba untuk meminta alamat beliau untuk berkorespondensi rupanya tugas beliau yang sering pindah dan juga security protocol yang dia miliki hanya memperbolehkan korespondensi antar famili saja. Kemanakah Sgt Zeke sekarang saya tidak akan pernah tahu namun saya tidak akan pernah lupa jasa beliau sebagai guru, teman dan kakak besar saya yang ikut membimbing saya.

Tak lama kemudian situasi di Aljazair memburuk, dan kedutaan Indonesia pun ditutup dan keluarga saya dipindahkan ke Paris, Perancis.

Di Paris saya berkesempatan untuk cross training dengan teman-teman dari masyrakat Indonesia setempat yang juga hobby martial arts, beberapa diantaranya ada yang berlatih di Eric Parisset dan juga di klub Pancrase Bas Rutten. Dengan menggunakan panggung serba guna KBRI atau basement yang jarang digunakan kecuali untuk menyimpan barang, dan berlatih sepulang sekolah hingga malam.

Masih trauma dengan kekerasan yang saya alami di Aljazair secara tidak sadar violent environment sebelumnya membuat saya sangat apatis dan depresif, sehingga di sekolah saya sering terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele. Belum lagi daerah rumah tinggal saya yang rawan Neo-nazi dan gang berandalan Aljazair yang sering menjadi korban masyrakat setempat lewat prejudice dan ketidak adilan. Ingatkah anda dengan kerusuhan di Perancis tahun lalu oleh anak-anak muda? Kerusuhan kemarin adalah titik puncak kulminasi dari sekian tahun tidak di respon nya tuntutan ataupun atensi anak muda setempat yang dijadikan warga kelas dua.

Pada masa-masa ini saya memang susah bersosialisasi karena stigma “anak bermasalah” yang secara tidak sadar saya ciptakan sendiri.

Pulang ke tanah air sekitar tahun 1999 saya sengaja absen dari kegiatan seni bela diri selama dua tahun dan jujur menghindari kegiatan tersebut karena pengalaman yang saya alami sebelumnya, sampai akhirnya saya bertemu dengan Sensei Ben Haryo yang mengajarkan konsep Budo Seishin yang kembali mengembalikan semangat dan juga arahan yang baik untuk kembali menekuni seni bela diri. Bersama dengan Bapak Sensei Saleh Yusuf yang juga Instruktur di organisasi Goshin Budo Indonesia, beliau banyak mengajari saya tentang judo, sambo dan memperdalam seni groundwork dimana Sensei Saleh pernah menjuarai turnamen Judo semasa mudanya di Belanda. Berkat arahan dari kedua guru inilah saya tertarik kembali untuk aktif dan di saat yang sama akhirnya saya mendedikasikan diri untuk berusaha mempelajari dan mengerti “the physics of combat” atau “the chemistry of violence”. Memang untuk kedua aspek ini adalah hasil akhir yang sangat tidak menentu dan variablenya terlalu banyak, tidak seperti perhitungan matematis dimana 3 x 9 = 27dll. , namun dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang meramaikan atau menghasilkan rumus “personal combat” atau “violence” tersebut saya harap kerusakan atau skenario terburuk bisa kita minimalisir. Walhasil villain turned good lahir… dan setelah mendapatkan istri yang kebetulan mempelajari kriminologi saya pun membongkar kembali apa yang telah saya pelajari atau alami untuk berbagi cerita atau pikiran tentang dunia martial arts & self protection yang saya coba gabungkan lewat pengalaman langsung, studi kriminologi istri tercinta, data atau stastik yang ada dan analisa video perkelahian.

Merangkum semua paragraph sebelumnya diatas saya menulis dan mengungkapkan tulisan di medium ini berdasarkan pengalaman dan perspektif saya sebagai seniman bela diri sejak cilik, korban kejahatan, mantan tough guy, macho man, bruce lee, punk dan pengalaman traveling & living saya di beberapa negara yang telah membuka perspektif dan pikiran saya di bidang seni bela diri dan juga seni menjalani hidup!

Saya setulusnya berharap bahwa informasi ini bisa bermanfaat bagi anda dan menambah wawasan anda tentang realita di luar dojo ataupun kehidupan kita sehari-hari dalam konteks martial art dan self protection dan juga melalui medium ini saya jadikan tribut untuk guru, teman dan sahabat yang menggulati dunia seni bela diri semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kekurangan … train hard, train smart and be safe!

Salam Budo!

Uno

Friday, March 23, 2007

Child Abduction (Penculikan Anak)

Salam Budo


Belakangan kasus penculikan anak menjadi headlines beberapa media bahkan liputan siang SCTV pada hari Sabtu 24 Maret 2007 menyebutkan adanya sindikat penculikan anak yang memang terkordinasi dan mencari anak untuk diculik dengan niat eksploitasi, kerja paksa atau ransom bilamana anak berasal dari keluarga yang oleh kelompok atau individu penculik di identifikasi sebagai keluarga yang secara ekonomi "mapan".

Tergerak karena kasus-kasus yang terjadi dan dengan niat untuk meningkatkan rasa keamanan pada diri anda dan juga untuk anak-anak, adik, saudara, tetangga atau anak anda sendiri berikut beberapa tips yang saya harap bermanfaat untuk meningkatkan rasa aman dan menjaga atau mengurangi kemungkinan "Child Abduction".

Sebelum kita mulai mari kita flashback sedikit tentang beberapa kasus yang terjadi dan mengidentifikasi beberapa SOP oleh para penculik dalam mendekati anak. Salah satu metode "pendekatan" untuk masuk ke dalam zona personal atau pribadi anak tsb. umumnya si abductor atau penculik akan meminta bantuan sang anak untuk mencari sesuatu atau mencari alamat/ jalan dengan tuntunan dari anak.

Nah untuk "permintaan" orang asing ini anda harus terus mengingatkan dan membiasakan anak untuk tidak pernah mengikuti atau berjalan dengan orang asing. Ingatkan mereka kalau ada orang tak dikenal yang meminta bantuan mereka karena alasan apapun, ingatkan anak untuk meminta orang dewasa yang dikenal anak untuk melayani permintaan itu. Karena tentu bila penculik bisa menarik anak tsb ke daerah yang sepi maka kemungkinan penculikan sangat besar.

Beberapa teknik yang bisa anda ajarkan bilamana anak tsb memang dipaksa secara fisik untuk "ikut" dengan si penculik:

- Segera teriaklah tolong bila berada di daerah yang ramai.
- Bila sempat saat anak diseret untuk "ikut" dengan si penculik, berpeganglah pada sesuatu sehingga ada resistensi, lebih baik juga adalah saat sedang tarik menarik dengan si penculik anak bisa berpegangan pada orang lain yang berada di sekitar kejadian sehingga menarik perhatian orang atau warga sekitar. Ini disebut juga sebagai "The Velcro" Technique.
- Teknik berikutnya disebut Windmill technique atau teknik baling-baling karena tangan anak memang sengaja digerakkan layaknya baling-baling untuk mempersulit gerakan "menangkap" penculik di tangan atau lengan anak.
- Jika anak kebetulan sedang bersepeda dan tiba-tiba seseorang mendekati dia dan memaksa anak untuk ikut dia ke mobil. Ajarilah anak untuk berpegangan keras pada sepeda sehingga dengan demikian anak + sepeda akan memperlambat gerakan penculik dan bisa menarik perhatian orang sekitar juga. Teknik ini dikenal dengan istilah bicycle hug.
- Jika penculik berhasil memasukkan anak ke dalam kendaraan mobil, ajarkan anak untuk segera mencari gagang pintu dan keluar bila tidak anak harus berusaha sebisa mungkin membunyikan klakson berkali-kali sambil terus berusaha menarik gagang pintu. Tentu metode ini berlaku apabila si penculik beroperasi sendiri, dalam keadaan lebih dari satu penculik bahaya yang sangat besar adalah fakta bahwa ruang gerak anak menjadi sangat sempit bahkan mungkin mustahil bila anak sudah dipegang oleh rekan penculik. Oleh sebab itu pastikan anak anda tidak berjalan sendirian di tempat-tempat yang rawan atau tidak di kenal.
- Berkaitan dengan teknik yang diatas jika mobil yang digunakan oleh penculik adalah mobil dengan empat pintu maka ajarkan anak untuk lompat ke jok belakang dan exit dari pintu tsb.

Harus di ingat bahwa maksud dari si penculik adalah "memindahkan buruannya" dengan secepat mungkin dan pada umumnya "proses fisik" apakah itu disakiti, dipukul atau dianiaya adalah proses yang akan terjadi nanti di kemudian waktu atau hari.

- Ajarkan anak untuk mengganjal tempat masuk kunci mobil dengan kancing baju si anak, atau benda apapun yang bisa dimasukkan ke lubang kunci tersebut yang bisa menunda proses menyalakan mobil, sebagai tambahan permen karet yang sedang dikunyah oleh si anak pun bisa digunakan untuk mengganjal titik tersebut.

- Benda yang juga bisa membantu menarik perhatian untuk dibawa anak adalah priwitan atau whistle dalam bahasa Inggris yang bisa dikalungkan anak untuk berjaga-jaga dan saat dlm keadaan bahaya anak membunyikan nya sekeras mungkin.

Tentu aspek terpenting yang harus di sharing dengan anak-anak adalah mengingatkan kepada mereka tentang penting nya mawas diri dan berhati-hati pada titik-titik transisi sehari-hari misalnya saat berangkat atau pulang sekolah. Metode-metode yang saya sebut diatas juga perlu di latih atau minimal di ajari ke anak-anak, saya camkan minimal karena ada perbedaan besar antara tahu dan "bisa!". Jangan lupa juga bahwa dalam keadaan berbahaya tersebut "adrenaline" besar yang membanjiri anak akan membuat anak panik, pengenalan ataupun informasi mengenai hal ini juga perlu disampaikan agar "energi" tersebut bisa dikontrol dengan bernafas secara perlahan dan membantu untuk berpikir jernih.

Saya harap informasi ini bisa membantu, ingatlah bahwa dalam kasus penculikan segala daya upaya harus dilakukan untuk "menolak secara agresif" badan anda dipindahkan ke tempat lain, karena jika hal ini terjadi maka secara keselamatan semuanya bertambah runyam dan mengerikan.

Spread the word, train hard, train smart and be safe




Tuesday, March 20, 2007

Martial Arts & Self Defense



Salam Budo!

Sebagai seniman bela diri dari aliran Jujutsu tradisional yang berprinsip pada landasan Budo Seishin tentu saya menghormati semua jenis seni bela diri yang ada karena eksistensi setiap seni bela diri mempunyai maksud, tujuan, ciri dan nilai plus masing-masing. Walaupun seni bela diri sering diekpose sebagai seni pertahanan diri oleh media film, komik dsb. namun melalui rekayasa adegan atau unsur hiperbola dalam cerita atau adegan di film, komik dll persepsi yang muncul di masyarakat umum adalah seni bela diri itu identik dengan jagoan berkelahi atau ahli tarung.

Konsep ataupun ide seperti ini memang sering dijual di berbagai kelas ataupun sekolah seni bela diri untuk meraup murid sebanyak banyaknya, dan mohon jangan salah artikan maksud saya sebagai satu bentuk ketidak hormatan kepada satu seni bela diri namun saya hanya ingin mengingatkan kita akan ekses bahaya yang muncul sebagai ketidak pahaman kita tentang realita yang sebenarnya.

Saya masih ingat sekali dengan guru Karate saya yang pertama di Caracas Venezuela, beliau adalah salah satu juara dari aliran Kyokushikai dan walaupun saya jujur lupa nama sang guru, saya tidak pernah lupa metode latihan dia yang cukup keras pada waktu itu. Kuda-kuda yang goyang sering disambut dengan shinai beliau yang
”aduhai” dan meninggalkan bekas “kecupan” shinai di sekujur tubuh. Latihan beliau yang keras memang menghasilkan petarung-petarung kumite yang handal, namun ketika saya mendengar salah satu murid yang dikeroyok karena berkelahi jelas saya khawatir tentang persepsi yang saya pelajari.

Disini saya sadar bahwa kumite dan hukum jalanan sangat bersebrangan dan setelah terlibat perkelahian di sekolah karena penasaran ingin menge-tes kemampuan saya, guru saya pun lupa memberitahu saya bahwa berkelahi itu dilarang oleh hukum (fighting is illegal in most if not all countries). Yang bisa saya rangkum setelah tinggal di Brazil, Venezuela, Aljazair, dan Perancis adalah pertama-tama violence atau kekerasan itu tidak bisa ditebak-tebak, jadi tidak ada jurus pamungkas jitu karena setiap individu, setiap situasi itu berbeda. Sebagai catatan bila anda secara tidak sengaja “terhisap atau terpancing” untuk berkelahi di jalanan di lingkungan yang “rawan” maka anda sudah harus siap menghadapi resiko mati. Mati? Iya betul mati! Kenapa? Wah kalo saya boleh cerita tentang berandalan-berandalan jalanan yang merajai jalanan di Rio de Janeiro, atau gang di Aljazair atau skinhead di Perancis Utara mereka tidak mengenal istilah kumite satu lawan satu tapi mentalitas serigala. Tidak jarang polisi pun engga ke daerah-daerah rawan tersebut kecuali mereka datang “full force” dengan pasukan huru-hara, mobil-mobil baja dan senapan caliber tinggi. Berhadapan dengan kelompok seperti itu tidak ada istilah berkelahi… yang ada hanyalah survival atau cari selamat. Toh jikalau anda pun berhasil merobohkan lawan, sudah pasti anda akan jadi bulan-bulanan mereka karena anda secara tidak langsung melukai “harga diri” mereka sebagai satu kelompok.

Mentalitas di jalanan untuk individu dari lingkungan “rawan” tersebut bukanlah berkelahi tapi mata dlm bahasa Spanyol yang berarti mati atau tue dlm bahasa Perancisnya. Disinilah gap persepsi yang berbahaya, berandalan jalanan yang menyalip mobil saya dan melempar botol bir berisi air seni ke kaca mobil saya berhasil saya susul dan saya tantang mereka untuk berkelahi karena ego saya terluka atas perbuatan mereka. Namun ketika mereka turun untuk menghadapi saya, mereka turun mobil bukan untuk berkelahi namun untuk menghabisi saya. Oleh sebab itu menahan diri dan tidak asal berkelahi sana-sini di lingkungan seperti diatas bukan cuma penting tapi smart!!!

Jadi berhati-hatilah dengan salah persepsi tersebut karena sudah cukup banyak seniman bela diri yang membayar mahal over confidence mereka dengan jahitan rumah sakit, harga diri yang turun, kursi roda, atau lebih parah lagi menjadi angka statistic.

Dalam konteks self defense saya ingin sharing penting nya merangkup beberapa aspek penting selain tentunya awareness dan common sense yaitu :

- Adrenal stress response

- Psychological state of you & attacker (substance influence etc.)

- Weapons counter

- Multiple attackers

- Criminal tactics

- And Legal Issues


Mohon diingat tidak ada sistim bela diri yang komplit dan saya selalu merekomendasikan approach yang pasifis, dengan demikian common sense jauh lebih penting dalam konteks self protection untuk diri anda dan keluarga anda. Sangat mudah karena dengan demikian anda cukup mempelajari dan mengidentifikasi jenis masalah yang ada dan menggunakan akal sehat anda untuk keluar dari masalah itu.

Dalam urusan kekerasan dan kejahatan pepatah lama dalam bahasa Inggris "an ounce of prevention is worth a pound of cure" bukan cuma benar tapi sangat tepat sekali! Mari kita renungkan bersama.

Salam Budo!

Monday, March 19, 2007

Jakarta Personal Protection System Blog Online!










Salam Budo!

The Jakarta Personal Protection System blog is officially on-line. Based in Jakarta, Indonesia we are dedicated in teaching and training safety awareness along with safe protection strategies through a combined method of reality based approach, video research and analysis (CCTV & amateur fight videos) and crime prevention methods.

Our mission is to inform and enlighten on the issue of personal security & safety in order to improve the quality of their lives and help educate people in identifying the equations or elements which may lead them to a violent and dangerous encounter.

The reality based training aspect of the system is aimed to develop practical responses against common street attacks, and although the techniques are effective in respect to the students training, dedication, survival will and situation we strongly recommend non-violent, evasive and de-escalation methods over the physical aspects because when it comes to personal safety "fighting ability" is only 5 percent of the personal safety equation, and if you ignore the remaining 95 percent which is a lot to do with awareness and common sense on your part, then you are likely to be more vulnerable to crime and violence than if you had no training at all.


Train Hard, train smart and be safe
Salam Budo!