Monday, June 22, 2009

Stick Defense: Baton dan Pertimbangannya dalam Self Defense

Salam pendekar!


Kasus penggunaan tongkat/ baton/ stick pendek dalam keadaan nyata belum lama ini sempet terdokumentasikan oleh kantor berita AP dimana pada bulan April lalu, seorang gadis yang berusia 17 tahun hampir menjadi korban perampokan saat berjalan pulang seusai latihan marching band.

Hanya dengan bermodalkan insting "survival" dan gerakan-gerakan motorik kasar yang agresif, ia berhasil menetralisir kedua pria yang merampoknya dengan menggunakan baton marching bandnya sehingga memberikan peluang untuk lari dan meminta bantuan warga sekitar.

Efektifitas Baton

Sebagai senjata improvisasi atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai "improvised weapons" tongkat pendek atau baton mempunyai fungsi yang baik dan efektif sebagai impact weapon, force multiplier, distance controlling, control and restrain aid, and knife disarming.

Bukan tanpa alasan pihak kepolisan, penegak keamanan maupun satuan security sering kali membawa baton sebagai tools untuk mendukung tugas mereka sehari-hari.

Dari sekian tipe dan jenis baton adapun beberapa jenis yang saya rekomendasikan, selain memiliki kegunaan taktis yang baik, design baton juga cukup praktis dan kuat untuk digunakan atau dibawa dalam keadaan sehari-hari (although untuk yang satu ini ada baiknya anda berkonsultasi dahulu mengenai legalitas nya sesuai dengan yurisdiksi masing-masing).

No one size fits all rule

Penting untuk di ingat bahwa karena bedanya ukuran, besar, dan preferensi masing-masing individu; ukuran baton yang ideal bagi setiap orang relatif berbeda. Jadi hindari approach:
One size fits all, seperti baton kayu atau karet sintetis yang di wajibkan setiap anggota LAPD di sekitar tahun 60 - 80 an yang juga sering digunakan juga oleh satuan keamanan lokal.

Variasi ukuran yang available setahu saya ada dari ukuran 16"-31"namun untuk tactical purpose atau maksud taktis adapun ukuran yang di rekomen yaitu 19" - 22"

Pemilihan baton

Dalam memilih baton, pengalaman saya pribadi proses pemilihan baton juga mirip dengan pemilihan senpi laras pendek atau pisau untuk pertahanan diri sehingga adapun beberapa pertanyaan atau faktor yang perlu dipertimbangkan seperti:

Hitting power
Multiple strike capacity
Quick retract
Weight
Size
Maintenance
Concealed carry

Jawaban-jawaban di atas umumnya adalah jawaban dari perspektif pribadi sehingga lagi-lagi setiap individu pasti akan berbeda jawaban nya, although as a general rule the answers must revolve around (STATES):

Carrier's size, training, assignment, experience and strength.

Khusus untuk individu yang badan nya kecil atau untuk wanita saya lebih merekomendasikan baton dengan ukuran yang pendek, namun tetap dalam range 19" untuk memberi distancing yang baik jika memang harus digunakan dalam keadaan taktis.

The Three Kings

Dari sekian banyaknya baton, pilihan saya sejauh ini jatuh ke tiga tipe yang menurut saya secara kualitas mereka bisa diandalkan dan cukup tahan banting yaitu:

- American Security Procedures
- MLP Inc
- dan terakhir PeaceKeeper RCB atau (Rapid Containment Baton); khusus untuk yang satu ini menurut saya stopping powernya sangat baik namun dibandingkan dengan yang lain berat baton ini sedikit atau relatif lebih berat. Sehingga untuk individu yang badannya kecil, mungkin tidak akan begitu menyukai tipe ini, walaupun striking powernya lagi-lagi cukup menghentak!


Summary

Sebagai defensive tools dalam konteks pertahanan diri, penggunaan baton mempunyai fungsi yang apabila didukung dengan training yang baik sangat mendukung efektifitas dalam menangkal serangan atau menetralisir lawan.

Namun perlu di ingat bahwa at the end of the day, baton hanyalah tools dan prinsip carrier skill dan mentalitas; adalah lebih penting dibandingkan rasa ketergantungan atau dependancy ke satu tool yang dalam keadaan dinamis sering kali tidak bisa berjalan smooth layaknya saat latihan.

Be safe

Ueno








Sunday, June 21, 2009

Group Dynamics in Self Defense

Salam pendekar!

Posting kali ini akan membahas dinamika grup atau kelompok dalam situasi self defense atau pertahanan diri. Sebagaimana kita ketahui; dalam keadaan sehari-hari seringkali lawan yang dihadapai tidak hanya satu tapi antara 2 - 3 atau lebih. Bahkan menurut statistik yang saya attach di bawah, situasi multiple opponent jauh lebih sering kasusnya dibandingkan single (terkecuali untuk kasus women's self defense dimana secara mayoritas kasus multiple assailants/ opponents walau ada atau terjadi; namun tidak begitu mendominasi)

Data diambil dari:

[1] Jochelson, R. (1997). "Crime and Place: An Analysis of Assaults and Robberies in Inner Sydney". New South Wales Bureau of Crime Statistics and Research. [2] Scottish Executive Central Research Unit (2002). Violence in Scotland: Findings from the 2000 Crime Survey. [3] U.S. Department of Justice, Bureau of Justice Statistics, Criminal Victimization in the United States, 2001 Statistical tables, Tables 49 and 66 online.

Sebelum kita masuk ke materi inti, mari kita sedikit prologue dahulu dengan satu legenda yang juga secara tidak langsung berhubungan dengan diskusi kita kali ini.

Texas Ranger One Man Riot Squad


Cerita ini saya dapat dari seorang sahabat yang ketika itu kami masih kelas 4 SD, dan menurut teman saya (Scott) cerita ini kemudian berkembang menjadi legenda di kalangan penegak hukum di Texas.

Jauh sebelum kisah "Walker: Texas Ranger" tiba di Indonesia, saya seringkali mendengar cerita kepahlawanan para Texas Ranger dari teman saya Scott yang kebetulan juga pengagum Texas Ranger dan mempunyai kakek buyut yang juga mantan petugas Texas Ranger.

Dari sekian kisah sukses Texas Ranger, adapun satu cerita yang hingga kini menjadi legenda yaitu:
The Texas Ranger One Man Riot Squad

Menurut legenda yang beredar, ketika suatu huru hara terjadi di satu kota kecil dan mengingat terbatasnya manpower yang tersedia pada waktu itu, maka aparat penegak hukum hanya bisa mengirimkan tim kecil ke lokasi untuk menenangkan massa. Kebetulan di kota kecil ini hanya ada satu penegak hukum Texas Ranger yang tidak mau melupakan kewajiban abdi masyarakat nya sehingga ia pun turun tangan seorang diri untuk menenangkan huru hara di kota ini.

Setibanya di lokasi, sebagian individu atau gang yang sedang bersiap-siap untuk membuat keributan ter megap-megap dengan datang nya Texas Ranger ini seorang diri. Lantas satu orang pun bertanya terheran-heran:


“Only one Ranger?" dan sang Ranger pun dengan percaya diri menjawab: “You only have one riot, don’t you?"

Terlepas dari keberanian (atau mungkin kenekatan Ranger tsb.) reputasi Ranger pada masa tersebut terbentuk karena SOP mereka yang shoot first ask later, tapi juga proses seleksi mereka yang unik yaitu seleksi tiga pertanyaan untuk calon Ranger
  1. "Can you ride?"
  2. "Can you shoot?"
  3. and, "Can you cook?"
Namun atribut lain yang juga membuat Texas Ranger disegani adalah walaupun metode atau sistematika menghadapi multiple opponents dan huru hara tidak terdokumentasi (kecuali untuk kasus2 penembakan dll.) pengetahuan dan pemahaman dinamika kelompok lah yang konon membantu para Texas Ranger melaksanakan tugasnya karena mereka seringkali harus berhadapan dengan lebih dari dua atau tiga lawan.

Apakah group dynamics ini dalam situasi multiple opponents? Mari kita bahas

Group Types
Dalam situasi dimana sekelompok orang berkumpul, dinamika perilaku kita secara sadar atau tidak pasti akan mengalamai perubahan. Alasan paling sederhana yang saya kutip dari guru sejarah saya adalah: "People, influence each other ... just like a virus, anger, fear, spirit and the will to do can quickly change once you have a group of people together"

Adapun tipe-tipe kelompok berdasarkan cirinya yaitu:



  1. Casual: Kelompok dalam satu area namun kelompok tidak terfokus, terpecah dalam aktifitas masing-masing. Contohnya: Kerumunan di mall, kafe atau tempat umum lain.
  2. Cohessive: Kelompok yang karena stimulus internal atau eksternal berkumpul dan sekarang mulai memfokuskan diri bersama ke stimulus tersebut. Contoh: Perkelahian yang terjadi di jalan, tabrakan antar kendaraan atau hal lain yang menarik perhatian umum.
  3. Expressive: Kelompok setelah mendapat stimulus mulai berekspresi secara bersama apakah secara vokal, gerakan dll. Contoh: Sekerumunan orang yang sama-sama bilang "Jangan! jangan!" saat melihat ada anak kecil yang hendak dipukuli pipa besi oleh ayahnya yang mabuk dan kalap
  4. Aggressive: Kelompok atau kerumunan massa mulai memfokuskan energi mereka (frustrasi, marah, kesal dll.) dalam bentuk destruktif dan mulai merusak atau menghancurkan properti pribadi atau umum sebagai bentuk ketidak puasan
Konteks Self Defense

Dalam konteks self defense, kasus pengroyokan seringkali berkembang dari tahapan-tahapan atau berubah tipenya dari kelompok yang paling pasif casual ke aggressive karena adanya stimulus tambahan dari internal (dari group sendiri) atau eksternal (bisa dari kata-kata yang kita gunakan, body language dll.)

Therefore identifying atau mengidentifikasi kelompok manakah yang ada di hadapan kita menjadi proses yang penting karena sebagaimana kita ketahui multiple opponent dalam kehidupan nyata tidak seperti di film-film dimana setiap orang menunggu giliran sebelum menyerang lawan atau sang jagoan yang biasanya menghabisi musuh nya dalam hitungan detik.

Dalam bagian dua saya akan bahas lebih lanjut lagi karakter-karakter individu dalam berkelompok, dimana sedikit dari pengetahuan ini mudah-mudahan bisa anda terapkan seandainya terpojok ke dalam situasi multiple opponents dan segala opsi defensif, atau evasif sudah tidak memungkinkan. Dan harap di ingat approach preventif dan evasif harus menjadi prioritas utama karena ada beberapa situasi multiple opponents yang karena faktor lingkungan atau faktor lainnya adalah: no win solution

Sampai jumpa kembali di bagian 2 dan selamat berlatih,

Ueno
















Wednesday, May 13, 2009

Menghadapi EDP & Pentingnya "Presence" Dalam Self Defense

Salam! setelah tiga bulan absen dari blog ini karena kesibukan kantor, coaching di Self Defense Indonesia, dan membantu proyek di Assessment Group Indonesia senang sekali saya bisa menulis kembali di blog ini dengan materi pertahanan diri (self defense/ self protection) yang terbaru.

Post kali ini membahas tentang pentingnya "presence" dalam pertahanan diri, dan kali ini penjelasan akan diberikan oleh Bapak J. Sanstrom yang memiliki pengalaman sebagai pengajar staff kesehatan, ahli jiwa dan kepolisian di Amerika.

Bagian kedua adalah penjelasan tentang korelasi "presence" dalam konteks pertahanan diri di kehidupan nyata atau sehari-hari. Mari kita dengarkan dahulu penjelasan dari Bapak J. Sanstrom


video

Presence in Self Defense

Konsep tentang "presence" dalam self defense pertama kali muncul ketika saya berdiskusi dengan seorang teman wanita di kantor, yang begitu sibuk mondar mandir kemana pun ia pergi dengan "sahabat" terbarunya yaitu: Blackberry

Singkat cerita teman saya ini sharing bahwa beberapa hari yang lalu dia sempet "dikagetkan" oleh seseorang yang ngga dikenal di sebuah kafe di Jakarta. Walaupun pria tersebut ternyata tidak mempunyai niat jelek tapi hanya ingin berkenalan namun teman wanita saya merasa bahwa "personal space" dia terlalu dekat sehingga teman saya merasa cukup risih (apalagi orang tersebut adalah orang yang belum pernah ia kenal)

Dari kejadian ini lantas dia bertanya, apakah hal tsb. terjadi karena kurangnya "situational awareness" karena begitu sibuknya ia menjawab chat atau sms di Blackberry nya? saya bilang memang unsur "situational awareness" ada tapi setelah melihat bahasa tubuh dia, ekpresi muka dan lain-lain... faktor presence juga ambil bagian.

Lantas seberapa pentingkah presence?

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sanstrom, presence adalah elemen pelengkap di konsep situational awareness yang memberikan "image" tentang diri kita secara eksternal.

Hal ini perlu di ingat, karena pelaku kejahatan/ kriminal juga melihat sisi eksternal kita dan juga "presence" kita (bahasa tubuh, ekpresi muka, cara berpakaian, cara bicara dll.) sebelum melakukan aksinya.

Tentu ini tidak berarti kita harus bermuka tegang, dan berbicara kasar kepada setiap orang yang kita tidak kenal (hal ini justru kontra produktif - karena aggressive behavior attracts aggressive attitude/ people and consequently violent behaviors or actions) tapi yang saya maksud adalah dalam keseharian kita perlu asertif, percaya diri, dan membawa diri yang baik (tidak hanya perilaku dan kata tapi juga pakaian) karena elemen-elemen kecil ini percaya atau tidak mempunyai andil juga dalam
scope self defense.

Semoga bermanfaat dan selamat berlatih!

Ueno







Saturday, February 28, 2009

Interview: Perkembangan gang kriminal & tindakan preventif

Salam kesatria!

Posting kali ini adalah satu interview spesial dengan seorang pakar gang yang juga menjabat sebagai Direktur Satuan Intel Gang di Amerika Serikat.

Dalam diskusi ini adapun beberapa pembahasan singkat mengenai trend perkembangan gang dan aktifitas-aktifitas apa saja yang mereka lakukan, serta tindakan preventif apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi maraknya kegiatan gang di komunitas masing-masing.

Semoga bermanfaat,

Ueno


video

Sunday, February 8, 2009

Kriminalitas: Melawan atau Menyerah?

Salam! Setelah cukup lama absen dari blog ini karena kesibukan mengajar self defense/ self protection classes & courses, kantor dan urusan rumah tangga; Alhamdullilah saya bisa menulis kembali dengan informasi yang mudah-mudahan bermanfaat dalam latihan seni bela diri dan perspektif pertahanan diri anda.

Judul posting kali ini sengaja saya ambil dari judul satu thread yang menjadi topik diskusi yang ramai di salah satu forum terbesar di Indonesia yaitu kaskus.us. Sengaja saya “pinjam” atau kutip judul tersebut karena setelah saya pikir matang, judul tersebut “pas” dengan beberapa hal yang akan saya bahas disini.


Satu hal yang saya coba sampaikan disini adalah dalam menghadapi skenario kriminal, jawabannya tidak semudah: melawan atau menyerah karena tanpa mengetahui apa sebenernya aksi kriminal dan siapa di belakang itu, jenis respons yang salah; justru meningkatkan eskalasi aktifitas kriminal yang tidak perlu terjadi.

Perlu anda ketahui bahwa mindset seorang kriminal bukanlah mindset seorang petarung, dalam arti kriminal tersebut tidak berniat untuk adu fisik, adu jotos ataupun adu teknik dengan anda. Hal ini tentu masuk akal karena aksi perampokan, atau kejahatan apapun adalah pelanggaran hukum dan sebagai masyarakat dengan kultur sosial; Indonesia memiliki hukum formal negara dan hukum non-formal masyarakat (massa) sehingga aksi tersebut harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Lebih lama aksi kriminal tersebut lebih tinggi resiko tertangkap atau di serang oleh masyarakat setempat, jadi aksi kriminal harus singkat, jelas dan aman untuk dieksekusi.

Secara singkat inilah beberapa fakta singkat mengenai aksi kriminalitas:

- Aksi kriminal kerap dilakukan oleh grup dengan jumlah rata-rata antara 3 – 5 orang
- Aksi kriminal identik dengan senjata tajam, tumpul atau senjata api


- Aksi kriminal secara stastistik berawal dan selesai rata-rata antara 30 detik sampai 1 menit (Kecuali untuk perampokan bernilai tinggi atau keamanan tinggi karena level of control yang harus di eksekusi lebih sulit, sehingga durasi waktu sedikit lebih lama)

- Secara karakter, pribadi yang melakukan aksi kriminal adalah pribadi yang self centered pada pemenuhan keinginan ybs. dengan menggunakan cara apapun untuk mencapai tujuan nya. Sehingga pribadi tersebut adalah pribadi yang anti sosial dan pada beberapa kasus pribadi yang sociopath yang tidak memiliki rasa kasihan atau kemanusiaan karena lagi-lagi yang penting adalah pemenuhan hasrat, atau keinginan sentris kriminal tersebut.

Dengan mempertimbangkan poin-poin di atas cukup jelas bahwa sparring atau fighting dalam konteks kejadian atau skenario kriminal bukanlah approach yang tepat. Lantas apakah saya mengusulkan anda menyerah dan pasrah? Bukan, bukan, bukan itu ... tapi yang saya coba garis bawahi disini adalah setiap kasus walaupun unik dengan dinamika kekerasan yang tersendiri, umumnya kasus atau kejadian kriminal itu mempunyai elemen-elemen yang konstan
.

Sehingga dengan mengetahui, dan mengenal elemen-elemen aksi kriminal tersebut kita bisa meng adjust respons, strategi dan pilihan taktis yang tepat, ingatlah kata Paman Sun Tzu bahwa; panglima perang yang terbaik adalah mereka yang mengerti kekuatan diri, kekuatan lawan dan to win without fighting. Murid saya pernah berkata: ”Ngga mungkin coach!, mana ada battle yang dimenangkan tanpa fighting” ... jawabannya: ”Ada!!” dalam sejarah combat adapun beberapa kisah heroik pertempuran yang dimenangkan tanpa perlu mengorbankan jiwa atau melepas pedang dari sarung atau menembakkan senjata, bahkan kejadian nya baru jelang satu tahun lalu dan masih ”fresh!” yaitu pembebasan sandera FARC di Kolombia, yang merupakan misi penyelamatan brilian yang diakui oleh ahli strategi dan militer di hampir seluruh dunia.

Ok kembali ke topik, inilah elemen-elemen yang present dalam aksi atau untuk melakukan aksi kriminal:

- Surprise: Elemen kejut

- Fear: Memanipulasi atau meningkatkan rasa takut yang ada pada seseorang melalui ancaman, senjata, atau massa (keroyokan) untuk mendapatkan apa yang di inginkan

- Shock: Memanfaatkan rasa shock korban untuk secara mental tap out terhadap keinginan kriminal

- Violence: Menggunakan bahasa atau gerakan fisik kekerasan untuk mendapatkan apa yang di inginkan

- Unwary victim: Memilih target atau korban yang secara spesifik lengah, misal: Berbicara di HP sambil jalan

- Control: Mengeliminasi kemampuan anda untuk membuat keputusan dengan memberi satu atau dua pilihan; misal: ”Eh uang lo sini atau gue tusuk”

- Know How: Pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan aksi kriminal tersebut, sayangnya residivis yang langganan keluar masuk Lembaga Pemasyarakatan justru bertambah ”ilmunya” setiap kali dia keluar LP karena saat keluar dia bisa mencoba teknik baru yang direkomendasikan teman di LP tersebut atau malah mencoba teknik baru untuk nanti di sharing di kemudian hari seandainya dia kembali ke LP tersebut. Kasus seperti ini juga terjadi di Amerika dimana seorang teman yang pernah menjadi sipir di penjara Texas menemukan kasus yang sama.

Lantas bagaimana dengan anda? Elemen apa saja yang bisa anda gunakan untuk meng counter aksi kriminal tersebut? Aspek fisik seperti fighting sebenarnya ada! Tapi seperti yang akan saya bahas aspek tersebut bukan pilar pertama ataupun kedua.

Mari kita simak:

Awareness: Ini memang sederhana sekali, tapi percaya atau tidak di zaman modern yang penuh dengan jadwal meeting dan aktifitas-aktifitas lain aspek ”Waspada” kadang mudah terlupa. Seperti yang saya sharing ke murid-murid Self Defense class saya, saya mengibaratkannnya sebagai otot yang juga perlu dilatih agar menjadi reaksi natural.

Knowledge: Knowing the signals that lead to a crime, intinya saat anda sudah mengetahui pola-pola dan sinyal bahasa tubuh yang menandakan adanya kemungkinan aksi kriminal, anda bisa menghindar atau meminimalisir kerusakan atau damage control.

Intelligence: Intelijensia disini adalah intelijensia untuk bisa berpikir di bawah tekanan dan intelijensia berkomunikasi saat di bawah tekanan. Kekerasan adalah bahasa yang sangat ekstrim tapi ketahuilah di belakang setiap kata-kata makian, kata-kata ancaman ada pesan yang ingin disampaikan; dan bila anda bisa mengerti apa pesan tersebut dinamika proses pun bisa kita kendalikan.

Self Worth: Pribadi yang terlihat lemah, kurang asertif, tidak waspada, dan lugu adalah tipe-tipe yang sering menjadi incaran para pelaku kriminal karena sebagai ”target” pertahanan psikis dan mental mereka lebih mudah.

Defensive Violence: Dalam skenario kekerasan yang ekstrim, kekerasan tidak bisa di manage dengan metode biasa apakah melalui komunikasi, de-eskalasi dan lain-lain. Sebagai bahasa dan tindakan yang primal dan agresif, bahasa yang digunakan untuk bisa sejajar dengan kondisi ini adalah menggunakan kekerasan strategis atau istilah yang saya pakai defensive violence to neutralize violence. In short: (At extreme conditions) Violence beats violence

Defensive Weapons: Senjata apapun yang anda miliki, dan anda kuasai mempunyai tempat, ruang, dan fungsi yang unik atau spesifik. Dan lebih penting lagi senjata tersebut hanyalah additional tools dalam proses pertahanan diri anda, dan tidak lupa juga aspek latihan, aksesibilitas senjata, pemilihan target yang perlu di pertimbangkan juga

Summary/ Ringkasan


Penjahat atau kriminal tidak mempunyai maksud untuk bertarung dengan anda.

Elemen tertangkap oleh instansi penegak hukum atau dihakimi massa (dikejar, dipukul dll.) terlalu tinggi jika pelaku kriminal tersebut harus adu jotos dengan anda selama lebih dari 1 menit.

Ingatlah bahwa aksi kejahatan yang mereka lancarkan mempunyai tujuan dan di kebanyakan kasus kriminalitas; tujuan tersebut adalah tujuan penguasaan atau pengambilan materi.

Di sebagian besar kasus dimana tujuan utama perampokan berubah menjadi pembunuhan adalah karena adanya eskalasi kekerasan yang mengubah dinamika dari perampokan biasa menjadi pembunuhan, kecuali kasus pembunuhan berencana but in general most robberies are motivated by the possession of property in which homicide robberies are the result of a robbery gone bad.

Karena aksi kriminal adalah satu proses, kemampuan anda untuk mengidentifikasi elemen yang dimiliki oleh pelaku kriminal dan elemen yang anda miliki untuk meng counter kriminal adalah dua faktor yang semakin lengkap pemahaman dan penguasaan anda terhadap faktor-faktor tersebut bisa meminimalisir aksi kejahatan tanpa mengeluarkan satu jurus.

Keep training! And train hard, karena seni bela diri mempunyai fungsi dan tempat khusus dalam proses kontra kriminal tapi ingatlah bahwa sebelum masuk ke tahap itu anda sudah mengerti betul dinamika aksi kriminal dan segala resiko yang anda pikul ketika anda ”melawan balik”.

Semoga bermanfaat and stay safe Ueno

Thursday, December 18, 2008

Third Party Intervention



Berikut saya attach cuplikan informasi ringkas mengenai third party intervention atau intervensi pihak ketiga dimana anda mungkin harus turun tangan untuk menengahi, de eskalasi atau aktif secara fisik karena bahaya yang terjadi dari situasi yang ada sudah tidak imbang atau membahayakan bagi pihak yang terlibat dalam konfrontasi tersebut. Perlu di ingat bahwa third party intervention memerlukan pertimbangan taktis tersendiri dan perlu di approach dengan hati-hati layaknya situasi self defense lainnya, tapi bilamana anda harus terlibat dalam urusan third party intervention semoga tips dan konsep singkat di bawah bisa membantu anda.


Dari sifatnya third party intervention itu bisa di breakdown menjadi:

- Accidental
- Situational
- Critical

Accidental: situasi dimana dalam proses eskalasi/ konfrontasi anda muncul di saat yang tidak di rencanakan. Singkatnya: "Being at the wrong place at the wrong time". Contoh kasus: Duduk di kursi kafe yang ternyata, di kursi depan kita sepasang kekasih sedang hebat2 nya argumen sampe keluar kata2 kasar.

Situational: situasi dimana dalam proses eskalasi/ konfrontasi anda berada di saat yang mungkin tidak direncanakan tapi anda harus tetap di lingkungan tersebut karena satu kewajiban. Contoh kasus: Bekerja di cubicle kantor dan tiba2 ada rekan yang mulai teriak2 dan maki2 atasan, dan mulai melempar barang. You have to be there because ... HECK you WORK THERE (haha) ... and something (argument/ conflict) just happened. Atau anda bekerja di sektor pengamanan dan memang tugas anda untuk mengamankan jiwa/ barang/ properti dll.

Critical: situasi ini bisa merupakan kombinasi antara situasi accidental dan situational tapi bisa juga stand alone, tapi yang membedakan adalah tingkat bahaya sudah pada level extreme dan sifat bahaya sudah mengancam jiwa (individu, kelompok atau lingkungan). Contoh kasus: Penyanderaan yang tingkat eskalasi (komunikasi, body language, psikologi) tinggi, atau pembajakan kendaraan/ properti case example bus/ airplane hijacking.

In short: You're there and the situation has deteriorated so bad that injury or death is not only upon you but EVERYBODY within the area of danger or the activity zone.

Assessment is a critical phase in any Third Party Intervention because during this phase, options or action plans are developed in relation to the situation at hand. Whatever the scenario; calling for assistance in most (if not the majority) of TPI situations is important, as this process helps or increases your safety which in turn will help diminish the threat.

Briefly: " How are you going to help? if it results in your own injury or death which will stop the TPI process " therefore assistance must be called upon, and this may be in the form of:

1. a legal security body/ group (Police, Security Services etc.) or
2. assistance in the form of mass/ numbers.
3. assistance in the form of specialty
4. assistance in the form of close connection

Jadi secara singkat intervensi pihak ketiga sebaiknya di lakukan dalam satu atau semua koridor tersebut karena semakin banyak elemen yang bisa kita sertakan dalam proses TPI semakin mudah untuk menetralisir suasana tersebut.

Tuesday, December 2, 2008

Quick Tip: Self Defense & Ground Management

Quick Tip: Self Defense

Attached adalah beberapa guideline ringkas tentang self defense yang merupakan kelanjutan dari thread di kaskus (http://kaskus.us/showthread.php?t=1218532) yang di post oleh teman saya Rey Demesco yang juga adalah praktisi arnis de mano. Akronim yang saya gunakan CODE DTMS yaitu, control the distance, decide now, dont trashtalk, multiples, and stand up (keep it standing up)

  • Control the distance : Me-manage jarak aman anda agar terhindar dari bahaya dan jarak efektif lawan untuk mukul, tendang, dorong, pull dll.
  • Decide now : Artinya buatlah keputusan segera apakah anda akan engage atau disengange karena secara taktis saat anda sudah membuat keputusan proses plan of action berjalan, dan options atau alternatif resolusi lainnya bisa menjadi available.
  • Don’t trashtalk : Saya pribadi bukan tipe yang suka menggunakan kata-kata kasar atau caci maki saat konfrontasi/ eskalasi karena biasanya saat adu lempar kata-kata caci maki manajemen jarak dll. menjadi kurang optimal, jadi penggunaan body language yang pacifying dan kata-kata yang diffusive, dan tegas lebih efektif dibandingkan dengan adu mulut untuk melindungi ego pribadi.
  • Multiples: Konfrontasi dengan dua orang atau lebih secara umum meningkatkan risiko dan agresifitas pihak yang berkelompok yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai wolf pack mentality. Studi menunjukkan bahwa gang attacks mempunyai risiko bahaya dan level agresi yang lebih tinggi dan lebih sukar dikendalikan sehingga dalam situasi seperti ini konfrontasi langsung bukanlah pilihan utama.
  • Stand up: Satu studi dari seorang Asisten Profesor di Middle George College Dr. B. Akil menunjukkan bahwa secara statistik 72 % orang jatuh ke ground saat perkelahian, dan 42 % kasus kedua belah pihak jatuh ke ground saat perkelahian dimana secara rata-rata 57 % jatuh karena di tarik, tersandung atau di banting dan 35 % jatuh karena terkena pukulan atau benda keras. Yang menarik, pihak pertama yang jatuh ke ground 59 % tidak berhasil dalam me manage konfrontasi/ agresi yang terjadi. Kesimpulan singkat dari statistik ini adalah :

1. Fights do go the ground; hanya saja secara statistik angka rata-rata adalah 70 % yang jatuh akibat pukulan tangan kosong/ benda keras, tarikan atau bantingan.

2. Ground knowledge is worth learning; mengutip statistik yang sudah saya sebutkan di atas, dengan mempelajari, mengerti dan menguasai teknik ground, kemungkinan untuk melanjutkan atau menetralisir agresi lawan lebih baik ketimbang tidak mempunyai basic ground sama sekali

3. Counter hit; alias belajar meng-counter serangan tangan kosong karena dalam kasus-kasus yang terjadi pukulan yang mengakibatkan KO mengharuskan pihak yang jatuh untuk memanage konflik dari posisi bawah.

4. Fights are incubated; Artinya berdasarkan pengalaman, analisa, dan observasi suatu perkelahian tidak terjadi “begitu saja” kecuali yang sifatnya adalah gang predatorial attack. Dan di mayoritas kasus perkelahian selalu ada celah untuk mencegah perkelahian itu terjadi.

Semoga bermanfaat
Ueno