Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bagi anda sebagai pengunjung blog saya ini yang apa adanya namun dengan niat sharing pengalaman, dan knowledge yang saya miliki untuk menambah ataupun menciptakan rasa aman melalui koridor safety awareness, saya harap melalui medium ini bisa berguna bagi pembaca, baik dari golongan seniman bela diri maupun umum.
Saya tergerak untuk fokus dan mendedikasikan sharing di bidang ini karena menurut saya salah satu musuh terbesar kita sebagai orang awam dan juga seniman bela diri adalah ignorance. Mohon maaf bila terjemahan saya kurang tepat sehubungan dengan baru belajarnya kembali bahasa Indonesia sejak saya kembali pulang ke negeri tercinta 7 tahun yang lalu. Namun ignorance yang saya maksud disini adalah ketidak ingin tahuan kita atau ketidak tahuan kita tentang realita dan keadaan yang sebenarnya, yang memang keras, sadis, agresif dan brutal dalam konteks self protection atau seni membela diri (nyawa: anda, keluarga, kerabat dll).
Harus kita akui bahwa dunia seni bela diri yang diekspose melalui berbagai medium media, apakah film, tv, komik dan lainnya telah menciptakan persepsi yang salah, berbahaya dan di mix dengan doktrin atau arahan dari guru/ instruktur seni bela diri yang juga tidak menyentuh aspek ini, sering sekali jerih payah latihan kita bisa lebih mencelakakan diri kita dibandingkan kita tidak belajar seni bela diri apapun. Belum lagi ego yang berlebihan yang bisa menjatuhkan seniman bela diri secara emosional atau lebih horror lagi …secara fisik atau faktor obat/ alkohol yang juga memperkeruh pikiran dan situasi karena pada hakikatnya dalam martial arts musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Nafsu kita, dan semua perbuatan, pikiran, perkataan negative yang jauh dari sifat kesatria… masih ingat dengan film Fearless – Jet Li? Satu example yang cukup bagus tentang keangkuhan, dan nafsu seorang pendekar menjadi “fighter” nomor satu di negeri Cina, karena pada intinya manusia adalah makhluk sosial dan bumi tidak di takdirkan untuk di kuasai oleh “satu” orang atau raja saja. Kelompok mungkin…tapi tidak oleh satu individu, lihat saja sejarah dan baca jatuhnya raja-raja terbesar dan agung karena terlalu serakah dan nafsu menguasai mereka tidak dibendung.
Wah! Maaf jadi sedikit belok ceritanya, ijinkan saya menceritakan background saya. Saya memang lahir di
Dari
Disini juga saya mulai bereskperimen layaknya anak kecil yang kebanyakan nonton film action dan juga lingkungan yang keras dimana the smallest fish in the pond sudah pasti jadi bulan-bulanan predator di lingkungan tersebut, secara sengaja atau tidak saya mulai sering berkelahi. Muka saya memang tidak mendukung, babyface, mungkin terlihat lugu bagi orang-orang tertentu namun justru physical appearance inilah yang menjadi faktor pemikat dan faktor “surprise” atau kejutan. Secara fisik saya kecil apalagi jika di deretkan dengan orang Causcasia atau Eropa waduh mirip hobbit dan karena inilah saya belajar untuk mempersingkat segala konfrontasi sesingkat-singkatnya karena saya mengerti bahwa semakin lama saya berlaga semakin kecil pula kemungkinan saya lolos utuh. Bahkan kalo boleh saya sharing taktik saya sangat mirip dengan taktik Jepang di
Dari
Di Aljazair inilah mata saya benar-benar terbuka tentang safety awareness dan self protection, pada waktu kami tiba negara Aljazair sedang dilanda perang saudara. Perang antara kelompok pro pemerintah dan kelompok militant fundamentalis yang cukup lama dan stagnant memaksa kelompok fundamentalis untuk menggunakan dirty tactics misalnya penculikan, blokade jalan, perampokan, terror dan bom. Warga Aljazair pada waktu itu juga sangat curiga dengan warga asing dan tidak jarang anak-anak muda berandalan sengaja mentargetkan warga asing untuk diperas dan untuk di intimidasi. Jadi di sekolah pun dan di beberapa daerah cycle of violence sepertinya kembali terulang dan lagi-lagi saya harus ber Bruce Lee atau menjadi Le Karate mec (atau the Karate dude) untuk mendapatkan respek dan paling tidak dipertimbangkan bila memang ingin di incar sebagai korban.
Pepatah yang mengatakan dalam satu kesulitan diberi kedua kemudahan bagi saya terbukti, karena di Aljazair lah saya bertemu dengan Sergeant Zeke. Saya ingat sekali postur beliau yang memang pas sekali untuk poster
Setelah berkali-kali dan mungkin juga karena mereka akhirnya capai juga menyuruh saya pulang, satu hari Sergeant Zeke menanyakan kepada saya “Do you wanna join the class or just sit there around all day?” Wah!! Saya ingat sekali kata-katanya dan tanpa basa-basi saya langsung berdiri and before I knew it saya belajar combatives langsung dari beliau. Jujur saya tidak pernah menanyakan nama asli dia karena personil marinir yang ditugaskan diperintah untuk tidak membagikan info apapun tentang diri mereka, dan bagi saya nama asli beliau tidak pernah saya permasalahkan asalkan dia baik, mau menjadi teman saya dan mengajar saya ilmu yang berguna. Dan saya pun tidak tahu pasti mengapa dia memutuskan untuk “berbagi” ilmunya kepada saya, konon menurut sahabat saya muka saya mengingatkan dia kepada almarhum adiknya di Amerika namun terlepas dari alasan apapun saya cukup semangat dalam menjalankan latihan walaupun sering dikritik tentang kuda-kuda ataupun habbit saya yang lain yang dalam persepektif “efektif” beliau sebenernya tidak perlu.
Metode mengajar beliau seingat saya sangat halus walaupun beliau memiliki background marinir dan jauh dengan metode IJI yang pada waktu itu sangat keras, dan beliau juga memprogram ulang secara mindset ,teknik dan knowledge yang saya miliki di martial arts agar lebih tajam dalam konteks self defense.
Selama setahun lebih saya berlatih dengan beliau dan saya ingat betul sesi latihan yang terakhir karena dubes Amerika ditarik pulang dan semua kegiatan diplomatik AS di bekukan hingga menunggu situasi di Aljazair membaik, ini terjadi sekitar tahun 1994an dan pada waktu itu hanya beberapa negara saja yang masih menjalankan hubungan diplomatik dengan Aljazair, umumnya negara-negara Arab dan Asia. Foto pun tidak sempat karena saya sama sekali tidak tahu bahwa kegiatan di kompleks itu sudah selesai, dan walaupun saya mencoba untuk meminta alamat beliau untuk berkorespondensi rupanya tugas beliau yang sering pindah dan juga security protocol yang dia miliki hanya memperbolehkan korespondensi antar famili saja. Kemanakah Sgt Zeke sekarang saya tidak akan pernah tahu namun saya tidak akan pernah lupa jasa beliau sebagai guru, teman dan kakak besar saya yang ikut membimbing saya.
Tak lama kemudian situasi di Aljazair memburuk, dan kedutaan
Di Paris saya berkesempatan untuk cross training dengan teman-teman dari masyrakat
Masih trauma dengan kekerasan yang saya alami di Aljazair secara tidak sadar violent environment sebelumnya membuat saya sangat apatis dan depresif, sehingga di sekolah saya sering terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele. Belum lagi daerah rumah tinggal saya yang rawan Neo-nazi dan gang berandalan Aljazair yang sering menjadi korban masyrakat setempat lewat prejudice dan ketidak adilan. Ingatkah anda dengan kerusuhan di Perancis tahun lalu oleh anak-anak muda? Kerusuhan kemarin adalah titik puncak kulminasi dari sekian tahun tidak di respon nya tuntutan ataupun atensi anak muda setempat yang dijadikan warga kelas dua.
Pada masa-masa ini saya memang susah bersosialisasi karena stigma “anak bermasalah” yang secara tidak sadar saya ciptakan sendiri.
Pulang ke tanah air sekitar tahun 1999 saya sengaja absen dari kegiatan seni bela diri selama dua tahun dan jujur menghindari kegiatan tersebut karena pengalaman yang saya alami sebelumnya, sampai akhirnya saya bertemu dengan Sensei Ben Haryo yang mengajarkan konsep Budo Seishin yang kembali mengembalikan semangat dan juga arahan yang baik untuk kembali menekuni seni bela diri. Bersama dengan Bapak Sensei Saleh Yusuf yang juga Instruktur di organisasi Goshin Budo Indonesia, beliau banyak mengajari saya tentang judo, sambo dan memperdalam seni groundwork dimana Sensei Saleh pernah menjuarai turnamen Judo semasa mudanya di Belanda. Berkat arahan dari kedua guru inilah saya tertarik kembali untuk aktif dan di saat yang sama akhirnya saya mendedikasikan diri untuk berusaha mempelajari dan mengerti “the physics of combat” atau “the chemistry of violence”. Memang untuk kedua aspek ini adalah hasil akhir yang sangat tidak menentu dan variablenya terlalu banyak, tidak seperti perhitungan matematis dimana 3 x 9 = 27dll. , namun dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang meramaikan atau menghasilkan rumus “personal combat” atau “violence” tersebut saya harap kerusakan atau skenario terburuk bisa kita minimalisir. Walhasil villain turned good lahir… dan setelah mendapatkan istri yang kebetulan mempelajari kriminologi saya pun membongkar kembali apa yang telah saya pelajari atau alami untuk berbagi cerita atau pikiran tentang dunia martial arts & self protection yang saya coba gabungkan lewat pengalaman langsung, studi kriminologi istri tercinta, data atau stastik yang ada dan analisa video perkelahian.
Merangkum semua paragraph sebelumnya diatas saya menulis dan mengungkapkan tulisan di medium ini berdasarkan pengalaman dan perspektif saya sebagai seniman bela diri sejak cilik, korban kejahatan, mantan tough guy, macho man, bruce lee, punk dan pengalaman traveling & living saya di beberapa negara yang telah membuka perspektif dan pikiran saya di bidang seni bela diri dan juga seni menjalani hidup!
Saya setulusnya berharap bahwa informasi ini bisa bermanfaat bagi anda dan menambah wawasan anda tentang realita di luar dojo ataupun kehidupan kita sehari-hari dalam konteks martial art dan self protection dan juga melalui medium ini saya jadikan tribut untuk guru, teman dan sahabat yang menggulati dunia seni bela diri semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kekurangan … train hard, train smart and be safe!
Salam Budo!
Uno

3 comments:
Selamat, Anda sudah menjalani cycle of violence hampir full circle...
Sekarang mana itu bahan latihannya heh? *maksa.com*
waaah kaget juga blog gue di datengin bapak ini... apa kabar bo? long time no see..
oke deeh blognya cerita semua ttg dunia beladiri... tpui rajin update dooonk
seru bener baca yg ini.
mantep banget bos!
Post a Comment