Tuesday, March 20, 2007

Martial Arts & Self Defense



Salam Budo!

Sebagai seniman bela diri dari aliran Jujutsu tradisional yang berprinsip pada landasan Budo Seishin tentu saya menghormati semua jenis seni bela diri yang ada karena eksistensi setiap seni bela diri mempunyai maksud, tujuan, ciri dan nilai plus masing-masing. Walaupun seni bela diri sering diekpose sebagai seni pertahanan diri oleh media film, komik dsb. namun melalui rekayasa adegan atau unsur hiperbola dalam cerita atau adegan di film, komik dll persepsi yang muncul di masyarakat umum adalah seni bela diri itu identik dengan jagoan berkelahi atau ahli tarung.

Konsep ataupun ide seperti ini memang sering dijual di berbagai kelas ataupun sekolah seni bela diri untuk meraup murid sebanyak banyaknya, dan mohon jangan salah artikan maksud saya sebagai satu bentuk ketidak hormatan kepada satu seni bela diri namun saya hanya ingin mengingatkan kita akan ekses bahaya yang muncul sebagai ketidak pahaman kita tentang realita yang sebenarnya.

Saya masih ingat sekali dengan guru Karate saya yang pertama di Caracas Venezuela, beliau adalah salah satu juara dari aliran Kyokushikai dan walaupun saya jujur lupa nama sang guru, saya tidak pernah lupa metode latihan dia yang cukup keras pada waktu itu. Kuda-kuda yang goyang sering disambut dengan shinai beliau yang
”aduhai” dan meninggalkan bekas “kecupan” shinai di sekujur tubuh. Latihan beliau yang keras memang menghasilkan petarung-petarung kumite yang handal, namun ketika saya mendengar salah satu murid yang dikeroyok karena berkelahi jelas saya khawatir tentang persepsi yang saya pelajari.

Disini saya sadar bahwa kumite dan hukum jalanan sangat bersebrangan dan setelah terlibat perkelahian di sekolah karena penasaran ingin menge-tes kemampuan saya, guru saya pun lupa memberitahu saya bahwa berkelahi itu dilarang oleh hukum (fighting is illegal in most if not all countries). Yang bisa saya rangkum setelah tinggal di Brazil, Venezuela, Aljazair, dan Perancis adalah pertama-tama violence atau kekerasan itu tidak bisa ditebak-tebak, jadi tidak ada jurus pamungkas jitu karena setiap individu, setiap situasi itu berbeda. Sebagai catatan bila anda secara tidak sengaja “terhisap atau terpancing” untuk berkelahi di jalanan di lingkungan yang “rawan” maka anda sudah harus siap menghadapi resiko mati. Mati? Iya betul mati! Kenapa? Wah kalo saya boleh cerita tentang berandalan-berandalan jalanan yang merajai jalanan di Rio de Janeiro, atau gang di Aljazair atau skinhead di Perancis Utara mereka tidak mengenal istilah kumite satu lawan satu tapi mentalitas serigala. Tidak jarang polisi pun engga ke daerah-daerah rawan tersebut kecuali mereka datang “full force” dengan pasukan huru-hara, mobil-mobil baja dan senapan caliber tinggi. Berhadapan dengan kelompok seperti itu tidak ada istilah berkelahi… yang ada hanyalah survival atau cari selamat. Toh jikalau anda pun berhasil merobohkan lawan, sudah pasti anda akan jadi bulan-bulanan mereka karena anda secara tidak langsung melukai “harga diri” mereka sebagai satu kelompok.

Mentalitas di jalanan untuk individu dari lingkungan “rawan” tersebut bukanlah berkelahi tapi mata dlm bahasa Spanyol yang berarti mati atau tue dlm bahasa Perancisnya. Disinilah gap persepsi yang berbahaya, berandalan jalanan yang menyalip mobil saya dan melempar botol bir berisi air seni ke kaca mobil saya berhasil saya susul dan saya tantang mereka untuk berkelahi karena ego saya terluka atas perbuatan mereka. Namun ketika mereka turun untuk menghadapi saya, mereka turun mobil bukan untuk berkelahi namun untuk menghabisi saya. Oleh sebab itu menahan diri dan tidak asal berkelahi sana-sini di lingkungan seperti diatas bukan cuma penting tapi smart!!!

Jadi berhati-hatilah dengan salah persepsi tersebut karena sudah cukup banyak seniman bela diri yang membayar mahal over confidence mereka dengan jahitan rumah sakit, harga diri yang turun, kursi roda, atau lebih parah lagi menjadi angka statistic.

Dalam konteks self defense saya ingin sharing penting nya merangkup beberapa aspek penting selain tentunya awareness dan common sense yaitu :

- Adrenal stress response

- Psychological state of you & attacker (substance influence etc.)

- Weapons counter

- Multiple attackers

- Criminal tactics

- And Legal Issues


Mohon diingat tidak ada sistim bela diri yang komplit dan saya selalu merekomendasikan approach yang pasifis, dengan demikian common sense jauh lebih penting dalam konteks self protection untuk diri anda dan keluarga anda. Sangat mudah karena dengan demikian anda cukup mempelajari dan mengidentifikasi jenis masalah yang ada dan menggunakan akal sehat anda untuk keluar dari masalah itu.

Dalam urusan kekerasan dan kejahatan pepatah lama dalam bahasa Inggris "an ounce of prevention is worth a pound of cure" bukan cuma benar tapi sangat tepat sekali! Mari kita renungkan bersama.

Salam Budo!

No comments: