Monday, January 21, 2008

Silat Paseban

Salam pendekar!

Dengan rasa bahagia saya post di bawah beberapa teknik dasar Silat Paseban yang diperagakan langsung oleh salah satu tokoh senior Silat Paseban di Jakarta yaitu Bapak Cacang beserta dua murid terpilih beliau yaitu Saudara Galih dan Saudara Jamil.

Semoga video ini bisa membangkitkan rasa bangga dan apresiasi kita terhadap budaya bangsa yang semakin hari semakin sulit untuk kita pertahankan dan lestarikan di derasnya kehidupan modern dan zaman serba instan.

Salam Pendekar!




Saturday, January 12, 2008

Launching Matriks

Salam Budo

Selamat tahun baru 2008 dan semoga di tahun ini segala usaha kita untuk menjadi pribadi dan manusia yang lebih baik bisa tercapai! Mohon maaf bila sudah lama sekali saya tidak mem post materi mengingat kesibukan di kantor luar biasa padatnya!

So what's new? well setelah riset hampir satu tahun lebih akhirnya program Matriks sudah mulai berjalan, inilah satu program dimana saya mempromosikan ke adik-adik di SMU dan bangku kuliah tentang "Personal Safety & Self Protection Strategies " melalui teknik-teknik dari seni bela diri.

Mengingat ini adalah proyek pertama saya mohon maaf jika masih banyak kekurangan, berikut dibawah adalah video Matriks I yang berisi tentang beberapa alternatif untuk melepaskan diri dari cekikan "front choke" - posisi berdiri dan posisi bawah.

Semoga bermanfaat dan Salam Budo!


Tuesday, July 24, 2007

Krav Maga Workshop




Salam Budo!

Dalam edisi kali ini di blog kusanagi saya ingin berbagi cerita dengan anda seputar pengalaman latihan seni bela diri yang belum lama ini sempat membuat terkuras habis stamina saya dan bukan main melelahkan karena tinggi nya aspek anaerobik pada teknik-teknik maupun drilling dalam sistem seni bela diri tersebut.

Diantara kalangan seni bela diri, jajaran kepolisian dan militer negara maju seperti Amerika, Australia, Inggris, dan lainnya nama krav maga tentu sudah tidak asing lagi. Sebagai salah satu seni bela diri yang berasal dari Israel, konon terciptanya seni bela diri ini bukan lain karena kebutuhan sebuah sistem atau metode yang bisa diajarkan dalam waktu relatif singkat namun tetap efektif dalam konteks seni pertahanan diri.

Sungguh bersyukur dan bahagia sekali ketika Bapak Stephen Chang dari Australia mengundang saya untuk menghadiri training dua hari full dalam seni krav maga yang diadakan di Combined Martial Arts Academy hari minggu kemarin (21 - 22 Juli) dan walaupun biasanya weekend adalah momen dimana saya bisa meregangkan kaki dan berleha dengan menyimak acara ataupun DVD favorit saya namun di kesempatan tersebut saya merelakan badan saya untuk dikuras keringat dan menjadi samsak "hidup" bagi peserta lainnya yang juga mengenakan baju blue smurf suit yang mirip baju robocop biru namun sama sekali tidak membuat saya kebal ketika saya mulai dihujani bogem mentah oleh rekan-rekan latihan yang 2 kali berat dan tinggi badan saya (OUCH!!!)



Berikut saya cantumkan dibawah agenda latihan krav maga yang saya pelajari minggu kemarin beserta beberapa keterangan singkat tentang poin-poinnya:

1. Konsep dan prinsip dalam Tactical Krav Maga
2. Keamanan dalam latihan
3. Kuda-kuda dan gerakan
4. Combatives
5. Awareness & Prevention & Conflict Resolution
6. Pertahanan luar & dalam
7. Knife Defense
8. Choke Escapes
9. Bear Hug Escapes
10. Ground Fighting


Menariknya metode Krav Maga ini sangat menekankan aspek "real" atau nyata dalam latihannya, berbekal baju "rompi" yang menjadi ciri khas Krav Maga selama 30 detik praktisi KM di serang dari berbagai arah oleh rekan-rekan latihannya yang bersenjatakan kicking shields, padded sticks, rubber knives dan selintas memang mirip sekali dengan sesi multiple di Aikido, namun menurut saya secara pace dan intensity metode KM sangat menguras stamina!


Adrenalin pun langsung meroket karena di sesi ini para agresor menjadi pemburu, sang "korban" pun harus menjadi pemburu juga, mengutip Bapak Stephen Chan instruktur kepala TFS Krav Maga Jakarta: " You are a hunter of targets, strike fast and get out of there... because your objective is to survive!" .

Adapun pelajaran berharga lain yang saya dapatkan di Krav Maga, yaitu dalam keadaan stress memukul dengan akurasi tepat bukan main susahnya!!! terlebih karena secara habit saya memang bukan seorang fist fighter. Saya lebih prefer menggunakan open palm dan dulu sewaktu masa-masa SMU saya suka minder dan tidak PD jika ditanyakan teknik apa yang saya gunakan untuk menjatuhkan lawan saya yang dua kali tinggi atau berat badan saya namun setelah menonton Bas Rutten di pertandingan Pancrase opini saya berubah. Hanya saja karena saya jarang melatih pukulan saya, ketika saya berada di bawah tekanan dan saya mulai memukul membabi buta karena emosi, panik dan stress saya tidak sadar bahwa pergelangan saya sprain karena kontak akhir dengan target salah. WADUH! bukan main sakitnya, tapi seandainya latihan tersebut adalah konflik fisik nyata dengan lebih dari satu lawan survival chances saya sudah pasti merosot tajam karena satu tools saya sudah tidak efektif.

Sebagai sistim bela diri menurut saya Krav Maga saya KM patut direkomendasi bagi rekan-rekan seni bela diri ataupun masyarakat awam yang ingin mendapatkan metode bela diri yang efektif dan secara teknis tidak terlalu ruwet! Hanya saja bagi anda yang malas berkeringat dan tidak enjoy ditekan secara fisik dengan sundulan dari kicking shield atau di pukul bertubi-tubi oleh manusia berjubah ala robocop mungkin KM bukanlah sistim yang tepat untuk anda... namun dalam keadaan nyata bukankah semua ketidak enakkan secara psikologis dan mental dan fisik tersebut yang akan kita alami?


Salam Budo!




Terima kasih untuk Bapak Karl Haley dan Bapak Stephen Chan selaku instructors dari Tactical Krav Maga, you're motivating words and teaching have made me a better martial artist and increased my feeling of personal safety!







Wednesday, April 18, 2007

The Most Dangerous Opponent

Salam Budo!



Sengaja saya post gambar salah satu petarung top dunia yaitu Kazushi Sakuraba sebagai ilustrasi opening artikel saya kali ini. Bagi para penggemar olahraga mixed martial arts popularitas Master Sakuraba ini mungkin sejajar dengan band papan atas internasional yang sudah berkali-kali memenangkan award. Dan walaupun beliau terkenal sebagai petarung mixed martial arts yang tidak hanya intelijen dalam pertarungannya, cepat, gesit dan tenang di dalam menghadapi lawannya namun sosok lawan yang lebih berbahaya dalam dunia nyata sehari-hari bagi saya pribadi bukanlah Master Sakuraba.

Musuh mematikan ini, juga berbeda dengan musuh dalam diri kita yang berbentuk seperti ignorance, ego, arrogance, and over confidence dimana musuh-musuh ini bisa di manage sendiri atau bersama secara bertahap. Namun musuh ini jika boleh, saya ibaratkan seperti guntur menggelegar yang “mampir” untuk bersalaman dengan pohon di lapangan terbuka yang penuh dengan orang-orang yang sedang berpesta.


Kejadian di Virginia Tech University di Amerika memang mengejutkan banyak pihak, bagaimana tidak? Dalam sejarah Amerika belum pernah seorang mengamuk dan menembak secara membabi buta dan menewaskan sekian banyak orang, terutama sejak kejadian Columbine High School masih membekas di ingatan sebagaian besar warga Amerika. Namun setelah dianalisa rentetan peristiwa sebelum dan sesudah kejadian biadab tersebut, pattern yang muncul, tanda-tanda yang mengarah pada kejadian tersebut bukan tanpa kebetulan bisa kita temukan. (Gavin de Becker – ahli kekerasan antar personal)

Lalu siapakah musuh mengerikan ini? Musuh ini adalah indivu sociopath yang tidak berperasaan, tidak peduli, tidak mempunyai emosi, dan tidak memberi anda peringatan apa pun... Dia pun tidak mengenal istilah maita, tap out ! atau piudad yang dalam Bahasa Spanyol berarti "ampun !! jangan sakiti saya !!" ... namun musuh mematikan ini tidak ragu sedikitpun untuk menghampiri anda dan mencolok mata anda sambil mengayunkan atau menggunakan senjatanya di setiap orang yang kebetulan dia jumpai.

Sebagai seniman bela diri tentu konsep awareness (physical, mental and emotional) sudah tidak asing lagi dimana aspek itu kita latih terus agar bisa peka atau sensitive terhadap perubahan kecil yang terjadi pada lawan kita. Apakah adanya pergeseran angle bahu, body positioning, posisi tangan atau kaki lawan , gerakan lawan sekecil apapun yang terdeteksi kita manfaatkan untuk melancarkan counter balik yang efektif dan menetralisir lawan.

Menginjak kaki keluar dojo dan melangkah maju dalam keseharian kita, konsep awareness ini terus kita bawa karena dari pengalaman kita sebagai praktisi, kita pun mengerti dengan dipegangnya, diingatnya awareness ini, reaction kita menjadi lebih tajam. Walau hanya sepersekian detik saja, reaksi ini dalam dunia nyata bisa mengubah segalanya.

Dengan lawan seperti itu? Dan situasi demikian? Apa yang bisa kita lakukan untuk mempertajam reaksi kita untuk menghadapi skenario terburuk seperti yang saya sebutkan diatas ?

Berikut beberapa drill yang yang mugkin bisa anda tambahkan ke dalam repertoire latihan anda yang saya harap bisa membantu mengasah reaction anda dalam konteks self defense/ self protection.

Drill pertama

(Physical)

Free flow hand to hand combat

Drill ini bertujuan untuk mengasah kemampuan fisik anda dan memprogram otak dan tubuh anda untuk merespon terhadap beberapa jenis serangan yang berbeda.

Untuk latihan ini anda perlu 3-5 orang yang akan berperan sebagai musuh dan anda berdiri di tengah, dan “musuh” anda mencoba menyerang anda secara bergantian untuk pemula dan anda bereaksi dengan menetralisir serangan lawan dengan teknik yang sederhana namun juga HARUS efektif. Sebagai catatan anda tidak perlu terburu buru dahulu dalam melakukan teknik anda. Cukup perlahan lahan dahulu agar otak dan gerakan motoriknya terekam secara baik, dan bila anda sudah lancar dan tidak ada “keraguan” dalam eksekusi teknik silahkan anda akselerasi kecepatan serangan dan teknik. Lakukan sesi ini berulang kali, dan bagi pemula karena umumnya ada jeda waktu antara reaction dan technical action cobalah dahulu dengan 1-2 lawan.

Umumnya setiap seni bela diri, apakah itu silat, jujutsu, aikido dan karate mempunyai versi mereka sendiri drill ini dan namanya pun untuk setiap style berbeda-beda namun dengan tujuan yang sama: mengasah reaksi fisik teknik anda, dan meningkatkan flow atau kesinambungan teknik dari satu ke yang lain.

Mohon di ingat bahwa drill ini hanya untuk mempertajam reaksi fisik teknis anda, harap di ingat bahwa dalam skenario seperti yang saya sebut diatas asset terpenting anda adalah correct breathing, focused calm (calm over chaos), improvised weapons, diversion tactics and strategic evasion tactics, dimana anda harus berusaha keras untuk memblokir atau menetralisir laju penyerangan dengan menghalangi atau menggunakan benda ataupun medan sekitar secara taktis. Namun bila keadaan terdesak, atau anda melihat adanya kesempatan dan anda sudah memutuskan untuk menetralisir lawan maka lakukanlah! Meminjam kalimat Bas Rutten: “In self defense there are no full proof scenarios, BUT it’s better to TRY than NOT try at ALL”

Metode free flow ini juga sebaiknya dilakukan secara spontan mirip layaknya randori di seni judo, jujutsu, BJJ atau MMA namun tentu anda diperbolehkan menggunakan seluruh teknik dan asset yang anda miliki. Dan ada baiknya pula walau anda mengeksekusi teknik secara full speed agar tetap hati-hati.

Drill kedua

(Mental – Physical)

Situational

Drill ini mirip dengan drill pertama namun di fase ini elemen-elemen seperti emosi lawan, teriakan, perlakuan atau kata-kata agresif lainnya di include ke dalam sesi latihan free flow. Details pun juga sedikit berbeda karena di tahap ini, kita mencoba untuk merekayasa adegan sehari-hari mengenakan pakaian biasa dan berjalan membawa tas dan diserang tiba-tiba sebagai contoh.


Drill ini bertujuan untuk menstimulasi emosi kita, karena biar bagaimana pun emosi kita tetap harus terjaga walaupun anda berada dalam tekanan psikologis. Tidak salah bila Bruce Lee berkata: “Anger blinds!”. Jangan terjebak di downward spiral dimana anda sudah kehilangan kendali motorik anda dan apapun yang anda lakukan pada titik ini sudah tidak efektif lagi.

Pada fase ini alangkah baiknya juga jika latihan bisa dilaksanakan dengan full armor body protector, sehingga akselerasi eksekusi teknik bisa hampir sama dengan keadaan yang sebenernya.

Harap di ingat sekali lagi bahwa kedua drill ini adalah sebagian kecil dari drill yang bisa mengasah kemampuan anda karena masih banyak drill lain seperti: duck and cover, interview drill, pre emptive striking drill, fright reaction drill dan masih banyak lagi yang tentu cukup untuk menulis satu bab buku spesifik untuk aspek ini. Namun paling tidak drill diatas bisa dijadikan metode alternatif dalam latihan anda.

Semoga kejadian Virginia Tech ini tidak terulang kembali dimanaoun itu namun mari kita ambil juga pelajaran tersirat dalam kejadian ini yaitu: “Jangan sekali kalinya meremehkan lawan anda!”. Seperti diberitakan oleh media massa tentu banyak yang kaget bahwa pelaku penembakan ternyata tidak bermuka seram, bengis, bertato dan anggota gang. Namun pelaku ternyata anak muda yang stress, depresif dan kehilangan simpati hidup di tengah kerasnya dunia pergaulan anak muda yang semakin hedon, konsumtif dan matrealisitis. Kita juga patut bersyukur bahwa peredaran senjata api di Indonesia dibatasi! karena melihat keadaan sehari-hari, dengan kondisi kota “keras” seperti Jakarta, dan tidak sedikit orang yang stress karena sulitnya hidup di kota metropolitan, sulitnya mencari pekerjaan... bisa anda bayangkan betapa tegangnya bila anda harus bermacet-macet ria sedangkan senjata api dijual bak kacang rebus.

Sebelum saya undur pamit ijinkan saya berbagi satu pepatah bijak dari Kaisar Ichijo Jepang (986-1011) dan terkenal karena pasukan samurainya yang luhur.

“Dalam pembuatan(penciptaan) pedang sebenarnya terdapat sesuatu yang agung, suci dan esa. Sang pemilik maupun pengguna (pedang) haruslah menjadi bagian dari inspirasi maha karya ini. Oleh karena itu ia (sang kesatria) haruslah menjadi manusia spiritual bagi dunia-nya dan bukan agen kekerasan dan kehancuran"

Train hard, train smart and be safe!

Uno

Thursday, March 29, 2007

Perkenalan

Salam Budo!

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bagi anda sebagai pengunjung blog saya ini yang apa adanya namun dengan niat sharing pengalaman, dan knowledge yang saya miliki untuk menambah ataupun menciptakan rasa aman melalui koridor safety awareness, saya harap melalui medium ini bisa berguna bagi pembaca, baik dari golongan seniman bela diri maupun umum.

Saya tergerak untuk fokus dan mendedikasikan sharing di bidang ini karena menurut saya salah satu musuh terbesar kita sebagai orang awam dan juga seniman bela diri adalah ignorance. Mohon maaf bila terjemahan saya kurang tepat sehubungan dengan baru belajarnya kembali bahasa Indonesia sejak saya kembali pulang ke negeri tercinta 7 tahun yang lalu. Namun ignorance yang saya maksud disini adalah ketidak ingin tahuan kita atau ketidak tahuan kita tentang realita dan keadaan yang sebenarnya, yang memang keras, sadis, agresif dan brutal dalam konteks self protection atau seni membela diri (nyawa: anda, keluarga, kerabat dll).

Harus kita akui bahwa dunia seni bela diri yang diekspose melalui berbagai medium media, apakah film, tv, komik dan lainnya telah menciptakan persepsi yang salah, berbahaya dan di mix dengan doktrin atau arahan dari guru/ instruktur seni bela diri yang juga tidak menyentuh aspek ini, sering sekali jerih payah latihan kita bisa lebih mencelakakan diri kita dibandingkan kita tidak belajar seni bela diri apapun. Belum lagi ego yang berlebihan yang bisa menjatuhkan seniman bela diri secara emosional atau lebih horror lagi …secara fisik atau faktor obat/ alkohol yang juga memperkeruh pikiran dan situasi karena pada hakikatnya dalam martial arts musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Nafsu kita, dan semua perbuatan, pikiran, perkataan negative yang jauh dari sifat kesatria… masih ingat dengan film Fearless – Jet Li? Satu example yang cukup bagus tentang keangkuhan, dan nafsu seorang pendekar menjadi “fighter” nomor satu di negeri Cina, karena pada intinya manusia adalah makhluk sosial dan bumi tidak di takdirkan untuk di kuasai oleh “satu” orang atau raja saja. Kelompok mungkin…tapi tidak oleh satu individu, lihat saja sejarah dan baca jatuhnya raja-raja terbesar dan agung karena terlalu serakah dan nafsu menguasai mereka tidak dibendung.

Wah! Maaf jadi sedikit belok ceritanya, ijinkan saya menceritakan background saya. Saya memang lahir di Jakarta, tapi saya besar di Brazil. Brasilia dan Rio de Janeiro adalah dua tempat yang sangat lekat di hati saya karena disinilah saya menghabiskan masa kecil saya. Dan jika anda pernah melihat film Ciudad de Dios atau City of God tentang kekerasan & perang gang di daerah Rio, nah! kurang lebih seperti itulah keadaan Brazil pada masa kecil saya. Sekarang pun demikian walaupun di beberapa daerah sudah tidak separah dulu atau crime infested namun siklus kekerasan di Brazil cukup untuk mengisi sebuah almanac ala Lampu merah dari awal sampe akhir.

Dari Brazil, saya dan kelurga menetap di Venezuela, dan entah kenapa mungkin karena memang segi budget ekonomis atau memang sudah nasib…lagi-lagi keluarga saya tinggal di daerah suburb yang juga lagi-lagi rawan kejahatan. Disinilah saya belajar Karate untuk pertama kalinya, saya ingat sekali metode Sensei saya yang cukup keras namun saya benar-benar lupa nama beliau! (Maaaaaaafkan aku ya Sensei!!!) yang saya ingat beliau sering mengikuti turnaman Kyokushinkai dan bahkan di akui sebagai salah satu representative yang ternama karena pada waktu itu saya diperlihatkan dokumen daftar official World Kyokushinkai representatives yang terpasang di dojo dengan stamp dari main Hombu Jepang.

Disini juga saya mulai bereskperimen layaknya anak kecil yang kebanyakan nonton film action dan juga lingkungan yang keras dimana the smallest fish in the pond sudah pasti jadi bulan-bulanan predator di lingkungan tersebut, secara sengaja atau tidak saya mulai sering berkelahi. Muka saya memang tidak mendukung, babyface, mungkin terlihat lugu bagi orang-orang tertentu namun justru physical appearance inilah yang menjadi faktor pemikat dan faktor “surprise” atau kejutan. Secara fisik saya kecil apalagi jika di deretkan dengan orang Causcasia atau Eropa waduh mirip hobbit dan karena inilah saya belajar untuk mempersingkat segala konfrontasi sesingkat-singkatnya karena saya mengerti bahwa semakin lama saya berlaga semakin kecil pula kemungkinan saya lolos utuh. Bahkan kalo boleh saya sharing taktik saya sangat mirip dengan taktik Jepang di Pearl Harbor haha!

Dari Venezuela, saya dan keluarga kemudian pindah ke Jakarta untuk dua tahun dan disini saya berkesempatan untuk belajar jujutsu memalui Sensei Daniel Payauw yang pada waktu itu Dan III kalo tidak salah. Saya ingat beliau sangat tegas dalam mengajar tapi juga dekat dengan murid-muridnya karena sering ber chit-chat menanyakan kabar muridnya. Beliau juga cukup dekat dengan Bapak Heru Nur Cahyo yang juga menjadi figur prominent di organisasi Institut Jujutsu Indonesia bahkan boleh dibilang salah satu murid kesayangan Bapak Heru karena bisa dibilang mereka bertetangga tapi juga karena Sensei Daniel juga berpotensi. Singkat cerita dalam waktu dua tahun saya berhasil memegang sabuk biru plus! Iya! Terdengar lucu memang namun karena faktor umur saya tidak diperbolehkan mengikuti ujian sabuk coklat padahal materi cokelat sudah saya khatamkan dan saya pun merengek pada Sensei untuk ikut ujian karena saya yakin saya bisa! Sensei Daniel pun bermurah hati untuk mengajarkan materi dan kurikulum sabuk hitam Dan I kepada saya karena selain saya dekat dengan Beliau, entah karena saya punya ingatan motorik yang cukup bagus saya bisa mengingat semua teknik dengan waktu relatif cepat. Namun Beliau tidak mengijinkan saya mengikuti ujian karena pada waktu itu ujian sabuk cokelat dan Dan I sering disatukan dengan tentara khususnya dari Grup Kopassus dan bertempat di Cibubur… dan terkenal cukup keras dan militant, ya maklumlah approach latihan pada waktu itu masih sangat kental dengan militer, plus di zaman Orba siapa yang berani bilang militer salah hahaha! Sebelum saya bisa menunggu umur untuk mengikuti ujian sabuk cokelat dan Dan I, keluarga saya kemudian pindah ke Aljazair.

Di Aljazair inilah mata saya benar-benar terbuka tentang safety awareness dan self protection, pada waktu kami tiba negara Aljazair sedang dilanda perang saudara. Perang antara kelompok pro pemerintah dan kelompok militant fundamentalis yang cukup lama dan stagnant memaksa kelompok fundamentalis untuk menggunakan dirty tactics misalnya penculikan, blokade jalan, perampokan, terror dan bom. Warga Aljazair pada waktu itu juga sangat curiga dengan warga asing dan tidak jarang anak-anak muda berandalan sengaja mentargetkan warga asing untuk diperas dan untuk di intimidasi. Jadi di sekolah pun dan di beberapa daerah cycle of violence sepertinya kembali terulang dan lagi-lagi saya harus ber Bruce Lee atau menjadi Le Karate mec (atau the Karate dude) untuk mendapatkan respek dan paling tidak dipertimbangkan bila memang ingin di incar sebagai korban.

Pepatah yang mengatakan dalam satu kesulitan diberi kedua kemudahan bagi saya terbukti, karena di Aljazair lah saya bertemu dengan Sergeant Zeke. Saya ingat sekali postur beliau yang memang pas sekali untuk poster United States Marine Corps Recruitment. Lehernya pendek bak Mike Tyson, badannya juga kekar dari hasil gemblengan beliau sebagai marinir African American yang sangat berwibawa. Beliau memang ditugaskan di Aljazair sebagai penjaga kedutaan Amerika dan juga tergabung di satuan pengamanan diplomat. Sekolah saya kebetulan bersebrangan dengan rumah dubes Amerika dan sahabat saya kebetulan juga kenal dengan staff dan “orang-orang” dalam di kompleks yang dijaga superketat itu oleh marinir AS. Dari network itulah saya bisa masuk dan walaupun niat saya hanya liat-liat ternyata setelah saya melihat latihan bela diri para marinir saya kemudian sering duduk dan memperhatikan jalannya latihan. Walaupun kadang diusir secara halus tapi saya ngotot dengan berbagai alasan untuk tetap bisa mengagumi jenis latihan yang saya anggap baru karena tidak menggunakan seragam dan approachnya tidak seperti sekolah seni bela diri yang tradisional.

Setelah berkali-kali dan mungkin juga karena mereka akhirnya capai juga menyuruh saya pulang, satu hari Sergeant Zeke menanyakan kepada saya “Do you wanna join the class or just sit there around all day?” Wah!! Saya ingat sekali kata-katanya dan tanpa basa-basi saya langsung berdiri and before I knew it saya belajar combatives langsung dari beliau. Jujur saya tidak pernah menanyakan nama asli dia karena personil marinir yang ditugaskan diperintah untuk tidak membagikan info apapun tentang diri mereka, dan bagi saya nama asli beliau tidak pernah saya permasalahkan asalkan dia baik, mau menjadi teman saya dan mengajar saya ilmu yang berguna. Dan saya pun tidak tahu pasti mengapa dia memutuskan untuk “berbagi” ilmunya kepada saya, konon menurut sahabat saya muka saya mengingatkan dia kepada almarhum adiknya di Amerika namun terlepas dari alasan apapun saya cukup semangat dalam menjalankan latihan walaupun sering dikritik tentang kuda-kuda ataupun habbit saya yang lain yang dalam persepektif “efektif” beliau sebenernya tidak perlu.

Metode mengajar beliau seingat saya sangat halus walaupun beliau memiliki background marinir dan jauh dengan metode IJI yang pada waktu itu sangat keras, dan beliau juga memprogram ulang secara mindset ,teknik dan knowledge yang saya miliki di martial arts agar lebih tajam dalam konteks self defense.

Selama setahun lebih saya berlatih dengan beliau dan saya ingat betul sesi latihan yang terakhir karena dubes Amerika ditarik pulang dan semua kegiatan diplomatik AS di bekukan hingga menunggu situasi di Aljazair membaik, ini terjadi sekitar tahun 1994an dan pada waktu itu hanya beberapa negara saja yang masih menjalankan hubungan diplomatik dengan Aljazair, umumnya negara-negara Arab dan Asia. Foto pun tidak sempat karena saya sama sekali tidak tahu bahwa kegiatan di kompleks itu sudah selesai, dan walaupun saya mencoba untuk meminta alamat beliau untuk berkorespondensi rupanya tugas beliau yang sering pindah dan juga security protocol yang dia miliki hanya memperbolehkan korespondensi antar famili saja. Kemanakah Sgt Zeke sekarang saya tidak akan pernah tahu namun saya tidak akan pernah lupa jasa beliau sebagai guru, teman dan kakak besar saya yang ikut membimbing saya.

Tak lama kemudian situasi di Aljazair memburuk, dan kedutaan Indonesia pun ditutup dan keluarga saya dipindahkan ke Paris, Perancis.

Di Paris saya berkesempatan untuk cross training dengan teman-teman dari masyrakat Indonesia setempat yang juga hobby martial arts, beberapa diantaranya ada yang berlatih di Eric Parisset dan juga di klub Pancrase Bas Rutten. Dengan menggunakan panggung serba guna KBRI atau basement yang jarang digunakan kecuali untuk menyimpan barang, dan berlatih sepulang sekolah hingga malam.

Masih trauma dengan kekerasan yang saya alami di Aljazair secara tidak sadar violent environment sebelumnya membuat saya sangat apatis dan depresif, sehingga di sekolah saya sering terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele. Belum lagi daerah rumah tinggal saya yang rawan Neo-nazi dan gang berandalan Aljazair yang sering menjadi korban masyrakat setempat lewat prejudice dan ketidak adilan. Ingatkah anda dengan kerusuhan di Perancis tahun lalu oleh anak-anak muda? Kerusuhan kemarin adalah titik puncak kulminasi dari sekian tahun tidak di respon nya tuntutan ataupun atensi anak muda setempat yang dijadikan warga kelas dua.

Pada masa-masa ini saya memang susah bersosialisasi karena stigma “anak bermasalah” yang secara tidak sadar saya ciptakan sendiri.

Pulang ke tanah air sekitar tahun 1999 saya sengaja absen dari kegiatan seni bela diri selama dua tahun dan jujur menghindari kegiatan tersebut karena pengalaman yang saya alami sebelumnya, sampai akhirnya saya bertemu dengan Sensei Ben Haryo yang mengajarkan konsep Budo Seishin yang kembali mengembalikan semangat dan juga arahan yang baik untuk kembali menekuni seni bela diri. Bersama dengan Bapak Sensei Saleh Yusuf yang juga Instruktur di organisasi Goshin Budo Indonesia, beliau banyak mengajari saya tentang judo, sambo dan memperdalam seni groundwork dimana Sensei Saleh pernah menjuarai turnamen Judo semasa mudanya di Belanda. Berkat arahan dari kedua guru inilah saya tertarik kembali untuk aktif dan di saat yang sama akhirnya saya mendedikasikan diri untuk berusaha mempelajari dan mengerti “the physics of combat” atau “the chemistry of violence”. Memang untuk kedua aspek ini adalah hasil akhir yang sangat tidak menentu dan variablenya terlalu banyak, tidak seperti perhitungan matematis dimana 3 x 9 = 27dll. , namun dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang meramaikan atau menghasilkan rumus “personal combat” atau “violence” tersebut saya harap kerusakan atau skenario terburuk bisa kita minimalisir. Walhasil villain turned good lahir… dan setelah mendapatkan istri yang kebetulan mempelajari kriminologi saya pun membongkar kembali apa yang telah saya pelajari atau alami untuk berbagi cerita atau pikiran tentang dunia martial arts & self protection yang saya coba gabungkan lewat pengalaman langsung, studi kriminologi istri tercinta, data atau stastik yang ada dan analisa video perkelahian.

Merangkum semua paragraph sebelumnya diatas saya menulis dan mengungkapkan tulisan di medium ini berdasarkan pengalaman dan perspektif saya sebagai seniman bela diri sejak cilik, korban kejahatan, mantan tough guy, macho man, bruce lee, punk dan pengalaman traveling & living saya di beberapa negara yang telah membuka perspektif dan pikiran saya di bidang seni bela diri dan juga seni menjalani hidup!

Saya setulusnya berharap bahwa informasi ini bisa bermanfaat bagi anda dan menambah wawasan anda tentang realita di luar dojo ataupun kehidupan kita sehari-hari dalam konteks martial art dan self protection dan juga melalui medium ini saya jadikan tribut untuk guru, teman dan sahabat yang menggulati dunia seni bela diri semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kekurangan … train hard, train smart and be safe!

Salam Budo!

Uno

Friday, March 23, 2007

Child Abduction (Penculikan Anak)

Salam Budo


Belakangan kasus penculikan anak menjadi headlines beberapa media bahkan liputan siang SCTV pada hari Sabtu 24 Maret 2007 menyebutkan adanya sindikat penculikan anak yang memang terkordinasi dan mencari anak untuk diculik dengan niat eksploitasi, kerja paksa atau ransom bilamana anak berasal dari keluarga yang oleh kelompok atau individu penculik di identifikasi sebagai keluarga yang secara ekonomi "mapan".

Tergerak karena kasus-kasus yang terjadi dan dengan niat untuk meningkatkan rasa keamanan pada diri anda dan juga untuk anak-anak, adik, saudara, tetangga atau anak anda sendiri berikut beberapa tips yang saya harap bermanfaat untuk meningkatkan rasa aman dan menjaga atau mengurangi kemungkinan "Child Abduction".

Sebelum kita mulai mari kita flashback sedikit tentang beberapa kasus yang terjadi dan mengidentifikasi beberapa SOP oleh para penculik dalam mendekati anak. Salah satu metode "pendekatan" untuk masuk ke dalam zona personal atau pribadi anak tsb. umumnya si abductor atau penculik akan meminta bantuan sang anak untuk mencari sesuatu atau mencari alamat/ jalan dengan tuntunan dari anak.

Nah untuk "permintaan" orang asing ini anda harus terus mengingatkan dan membiasakan anak untuk tidak pernah mengikuti atau berjalan dengan orang asing. Ingatkan mereka kalau ada orang tak dikenal yang meminta bantuan mereka karena alasan apapun, ingatkan anak untuk meminta orang dewasa yang dikenal anak untuk melayani permintaan itu. Karena tentu bila penculik bisa menarik anak tsb ke daerah yang sepi maka kemungkinan penculikan sangat besar.

Beberapa teknik yang bisa anda ajarkan bilamana anak tsb memang dipaksa secara fisik untuk "ikut" dengan si penculik:

- Segera teriaklah tolong bila berada di daerah yang ramai.
- Bila sempat saat anak diseret untuk "ikut" dengan si penculik, berpeganglah pada sesuatu sehingga ada resistensi, lebih baik juga adalah saat sedang tarik menarik dengan si penculik anak bisa berpegangan pada orang lain yang berada di sekitar kejadian sehingga menarik perhatian orang atau warga sekitar. Ini disebut juga sebagai "The Velcro" Technique.
- Teknik berikutnya disebut Windmill technique atau teknik baling-baling karena tangan anak memang sengaja digerakkan layaknya baling-baling untuk mempersulit gerakan "menangkap" penculik di tangan atau lengan anak.
- Jika anak kebetulan sedang bersepeda dan tiba-tiba seseorang mendekati dia dan memaksa anak untuk ikut dia ke mobil. Ajarilah anak untuk berpegangan keras pada sepeda sehingga dengan demikian anak + sepeda akan memperlambat gerakan penculik dan bisa menarik perhatian orang sekitar juga. Teknik ini dikenal dengan istilah bicycle hug.
- Jika penculik berhasil memasukkan anak ke dalam kendaraan mobil, ajarkan anak untuk segera mencari gagang pintu dan keluar bila tidak anak harus berusaha sebisa mungkin membunyikan klakson berkali-kali sambil terus berusaha menarik gagang pintu. Tentu metode ini berlaku apabila si penculik beroperasi sendiri, dalam keadaan lebih dari satu penculik bahaya yang sangat besar adalah fakta bahwa ruang gerak anak menjadi sangat sempit bahkan mungkin mustahil bila anak sudah dipegang oleh rekan penculik. Oleh sebab itu pastikan anak anda tidak berjalan sendirian di tempat-tempat yang rawan atau tidak di kenal.
- Berkaitan dengan teknik yang diatas jika mobil yang digunakan oleh penculik adalah mobil dengan empat pintu maka ajarkan anak untuk lompat ke jok belakang dan exit dari pintu tsb.

Harus di ingat bahwa maksud dari si penculik adalah "memindahkan buruannya" dengan secepat mungkin dan pada umumnya "proses fisik" apakah itu disakiti, dipukul atau dianiaya adalah proses yang akan terjadi nanti di kemudian waktu atau hari.

- Ajarkan anak untuk mengganjal tempat masuk kunci mobil dengan kancing baju si anak, atau benda apapun yang bisa dimasukkan ke lubang kunci tersebut yang bisa menunda proses menyalakan mobil, sebagai tambahan permen karet yang sedang dikunyah oleh si anak pun bisa digunakan untuk mengganjal titik tersebut.

- Benda yang juga bisa membantu menarik perhatian untuk dibawa anak adalah priwitan atau whistle dalam bahasa Inggris yang bisa dikalungkan anak untuk berjaga-jaga dan saat dlm keadaan bahaya anak membunyikan nya sekeras mungkin.

Tentu aspek terpenting yang harus di sharing dengan anak-anak adalah mengingatkan kepada mereka tentang penting nya mawas diri dan berhati-hati pada titik-titik transisi sehari-hari misalnya saat berangkat atau pulang sekolah. Metode-metode yang saya sebut diatas juga perlu di latih atau minimal di ajari ke anak-anak, saya camkan minimal karena ada perbedaan besar antara tahu dan "bisa!". Jangan lupa juga bahwa dalam keadaan berbahaya tersebut "adrenaline" besar yang membanjiri anak akan membuat anak panik, pengenalan ataupun informasi mengenai hal ini juga perlu disampaikan agar "energi" tersebut bisa dikontrol dengan bernafas secara perlahan dan membantu untuk berpikir jernih.

Saya harap informasi ini bisa membantu, ingatlah bahwa dalam kasus penculikan segala daya upaya harus dilakukan untuk "menolak secara agresif" badan anda dipindahkan ke tempat lain, karena jika hal ini terjadi maka secara keselamatan semuanya bertambah runyam dan mengerikan.

Spread the word, train hard, train smart and be safe




Tuesday, March 20, 2007

Martial Arts & Self Defense



Salam Budo!

Sebagai seniman bela diri dari aliran Jujutsu tradisional yang berprinsip pada landasan Budo Seishin tentu saya menghormati semua jenis seni bela diri yang ada karena eksistensi setiap seni bela diri mempunyai maksud, tujuan, ciri dan nilai plus masing-masing. Walaupun seni bela diri sering diekpose sebagai seni pertahanan diri oleh media film, komik dsb. namun melalui rekayasa adegan atau unsur hiperbola dalam cerita atau adegan di film, komik dll persepsi yang muncul di masyarakat umum adalah seni bela diri itu identik dengan jagoan berkelahi atau ahli tarung.

Konsep ataupun ide seperti ini memang sering dijual di berbagai kelas ataupun sekolah seni bela diri untuk meraup murid sebanyak banyaknya, dan mohon jangan salah artikan maksud saya sebagai satu bentuk ketidak hormatan kepada satu seni bela diri namun saya hanya ingin mengingatkan kita akan ekses bahaya yang muncul sebagai ketidak pahaman kita tentang realita yang sebenarnya.

Saya masih ingat sekali dengan guru Karate saya yang pertama di Caracas Venezuela, beliau adalah salah satu juara dari aliran Kyokushikai dan walaupun saya jujur lupa nama sang guru, saya tidak pernah lupa metode latihan dia yang cukup keras pada waktu itu. Kuda-kuda yang goyang sering disambut dengan shinai beliau yang
”aduhai” dan meninggalkan bekas “kecupan” shinai di sekujur tubuh. Latihan beliau yang keras memang menghasilkan petarung-petarung kumite yang handal, namun ketika saya mendengar salah satu murid yang dikeroyok karena berkelahi jelas saya khawatir tentang persepsi yang saya pelajari.

Disini saya sadar bahwa kumite dan hukum jalanan sangat bersebrangan dan setelah terlibat perkelahian di sekolah karena penasaran ingin menge-tes kemampuan saya, guru saya pun lupa memberitahu saya bahwa berkelahi itu dilarang oleh hukum (fighting is illegal in most if not all countries). Yang bisa saya rangkum setelah tinggal di Brazil, Venezuela, Aljazair, dan Perancis adalah pertama-tama violence atau kekerasan itu tidak bisa ditebak-tebak, jadi tidak ada jurus pamungkas jitu karena setiap individu, setiap situasi itu berbeda. Sebagai catatan bila anda secara tidak sengaja “terhisap atau terpancing” untuk berkelahi di jalanan di lingkungan yang “rawan” maka anda sudah harus siap menghadapi resiko mati. Mati? Iya betul mati! Kenapa? Wah kalo saya boleh cerita tentang berandalan-berandalan jalanan yang merajai jalanan di Rio de Janeiro, atau gang di Aljazair atau skinhead di Perancis Utara mereka tidak mengenal istilah kumite satu lawan satu tapi mentalitas serigala. Tidak jarang polisi pun engga ke daerah-daerah rawan tersebut kecuali mereka datang “full force” dengan pasukan huru-hara, mobil-mobil baja dan senapan caliber tinggi. Berhadapan dengan kelompok seperti itu tidak ada istilah berkelahi… yang ada hanyalah survival atau cari selamat. Toh jikalau anda pun berhasil merobohkan lawan, sudah pasti anda akan jadi bulan-bulanan mereka karena anda secara tidak langsung melukai “harga diri” mereka sebagai satu kelompok.

Mentalitas di jalanan untuk individu dari lingkungan “rawan” tersebut bukanlah berkelahi tapi mata dlm bahasa Spanyol yang berarti mati atau tue dlm bahasa Perancisnya. Disinilah gap persepsi yang berbahaya, berandalan jalanan yang menyalip mobil saya dan melempar botol bir berisi air seni ke kaca mobil saya berhasil saya susul dan saya tantang mereka untuk berkelahi karena ego saya terluka atas perbuatan mereka. Namun ketika mereka turun untuk menghadapi saya, mereka turun mobil bukan untuk berkelahi namun untuk menghabisi saya. Oleh sebab itu menahan diri dan tidak asal berkelahi sana-sini di lingkungan seperti diatas bukan cuma penting tapi smart!!!

Jadi berhati-hatilah dengan salah persepsi tersebut karena sudah cukup banyak seniman bela diri yang membayar mahal over confidence mereka dengan jahitan rumah sakit, harga diri yang turun, kursi roda, atau lebih parah lagi menjadi angka statistic.

Dalam konteks self defense saya ingin sharing penting nya merangkup beberapa aspek penting selain tentunya awareness dan common sense yaitu :

- Adrenal stress response

- Psychological state of you & attacker (substance influence etc.)

- Weapons counter

- Multiple attackers

- Criminal tactics

- And Legal Issues


Mohon diingat tidak ada sistim bela diri yang komplit dan saya selalu merekomendasikan approach yang pasifis, dengan demikian common sense jauh lebih penting dalam konteks self protection untuk diri anda dan keluarga anda. Sangat mudah karena dengan demikian anda cukup mempelajari dan mengidentifikasi jenis masalah yang ada dan menggunakan akal sehat anda untuk keluar dari masalah itu.

Dalam urusan kekerasan dan kejahatan pepatah lama dalam bahasa Inggris "an ounce of prevention is worth a pound of cure" bukan cuma benar tapi sangat tepat sekali! Mari kita renungkan bersama.

Salam Budo!