Sunday, January 17, 2010

Ledakan Psikologis dan Pertahanan Diri

Salam!

Selamat tahun baru, may this year bring you happiness, joy, wealth and everything that you have worked, hoped and prayed!

Posting saya kali ini terinspirasi dari satu pertanyaan saat latihan teknik pertahanan diri yang melibatkan ancaman pisau di dalam mobil dari belakang. Teknik yang masuk ke dalam situasi dan kategori high risk ini terinspirasi juga dari kejadian nyata yang melibatkan salah satu siswa di salah satu kampus ternama di Jakarta Barat pada tahun 2009, dimana mahasiswa ini menjadi korban perampokan di dalam mobilnya sendiri; saat ia meninggalkan mobilnya di luar kosan pada malam hari.

Setelah mendemonstrasikan konsep di belakang "escape" situasi seperti ini, teman-teman dan beberapa murid yang berlatih pada hari itu mulai membanjiri area latihan dengan segudang pertanyaan, namun semuanya mempunyai satu garis besar yaitu: "HOW TO ESCAPE UNDER SUCH TERRIBLE CONDITION?"


Diluar aspek teknik, fisik, atribut, sikon dan lainnya untuk bisa lolos dari situasi yang disebut diatas; adapun aspek penting yaitu aspek yang saya sebut sebagai: Ledakan Psikologis atau Mental Explosion.

Dari nol ke seratus


Seperti yang saya jelaskan sebelumnya teknik hanyalah bagian dari satu proses, proses yang terbentuk dari keadaan psikologis. Dalam kasus pertahanan diri ekstrim, permasalahan pertama yang harus di "bajak" bukanlah rasa takut; karena rasa takut itu adalah instingtif dan dibawah kendali serta pelatihan yang baik bisa menjadi enerji pembimbing untuk "survive" dari situasi ekstrim.



Permasalahannya adalah kemampuan untuk bisa bertindak dari : " Nol ke seratus! "
Pejamkan mata anda, dan bayangkan anda hendak masuk mobil setelah acara yang begitu menyenangkan dengan keluarga, pacar, istri dll. Pikiran anda saat masuk mobil adalah:

1. Tutup/ kunci pintu
2. Nyalain mobil
3. Tunggu mesin panas sedikit, sambil cek sms/ blackberry messenger
4. Cari tiket parkir
5. Dll.

Tiba-tiba dari belakang muncul sosok yang memegang belati/ pisau atau benda tajam lainnya sambil memegang leher anda dan mengancam: (Sebelumnya mohon maaf bila bahasa kurang berkenan, namun dalam konteks kekerasan; bahasa kasar sering menjadi bagian dari proses)


" MAKSUD ELU TADI PAGI APAAN YA AN**NG!! BAN***T!!! GUE BUNUH LOOO! GUE BUNUH LOOOO!!!! " (asumsi pelaku sakit hati dengan perkataan atau tindakan kita terhadapnya tadi pagi)

Bayangkan ... mindset "survival" anda yang sebelumnya di speedometer level nol sekarang harus "meledak" ke level 100 km/jam! dan disinilah permasalahannya.

THE RAT RACE

Otak manusia adalah satu organ yang paling rumit cara kerjanya di bandingkan organ tubuh lain; tidak ada tombol di dalam diri kita yang bisa mengubah keadaan atau "state of mind" hanya dengan membalikkan telapak tangan. Dengan demikian apa yang bisa kita perbuat untuk meningkatkan atau mungkin lebih tepatnya "membajak" software instingtif otak untuk meningkatkan peluang survival kita?
Rumusnya adalah akronim yang saya singkat RAT RACE yaitu:

  • Recognition: Kemampuan melihat & mengidentifikasi potensi bahaya, bila bahaya tersebut tidak terdeteksi secara visual (contoh dalam keadaan lengah) otak, psikologi dan badan akan bertindak sesuai stimulus atau pengalaman.
  • Action: Kemampun memilih tindakan dan bertindak dibawah tekanan
  • Time: Waktu yang tersedia based on opponent action and condition untuk bertindak
  • Response & Approriateness: Bertindak sesuai dengan tingkat bahaya (tidak melebihi, contoh: Hanya karena anda nyaris ditabrak sopir angkot tidak dibenarkan memukul sopir tersebut dengan kunci stir hingga dia gegar otak dan mengalami pendarahan)
  • Experience: Pengalaman otak, psikologi dan tubuh untuk bergerak di bawah perasaan takut, tertekan dan lainnya.
Kelima faktor inilah yang berperan untuk membajak software otak dan mudah-mudahan meningkatkan probabilitas bertindak dalam situasi kritis. Ingat tidak ada jaminan dalam situasi kritis yang ada hanyalah meredam potensi kerugian atau kerusakan, dan Insya Allah dengan

Di lain waktu saya akan coba post video yang membahas lebih lanjut tentang situasi di atas, namun untuk sementara waktu saya berharap rumus di atas bisa menjadi pertimbangan anda untuk di integrasi ke dalam latihan untuk "ESCAPE" dari situasi worse case scenario.

Selamat berlatih
Be safe!

Ueno





















Tuesday, November 17, 2009

SDI Umbrella Defense

Salam pendekar

Attached adalah video demo dan penjelasan penggunaan payung untuk pertahanan diri. Adapun beberapa aspek yang saya bahas secara singkat yaitu:

- Pertimbangan bahan/ materi payung
- Grip payung dalam gerakan ofensif/ defensif
- Kombinasi gerakan

Semoga bermanfaat

Ueno

Monday, November 9, 2009

Payung Pertahanan

Salam kesatria dan salam pendekar! Selamat hari pahlawan! Semoga perjuangan para pejuang dan pahlawan bisa kita teruskan dan semangat membangun negeri ini terus berkobar, demi maju dan makmurnya kita semua di Indonesia

Kali ini saya akan sharing bersama teman-teman satu "tools" pertahanan diri yang cukup efektif, dan mudah dibawa kemana-mana yaitu payung.

Kelebihan tools ini adalah panjangnya yang bisa disesuaikan (tergantung model) dan mampu digunakan sebagai tools untuk menjaga jarak serangan tangan kosong, tumpul atau tajam.

Poin-poin Pertimbangan

Bagi rekan-rekan ataupun seniman bela diri yang berminat untuk membawa payung sebagai alat pertahanan diri ada beberapa poin yang perlu di ingat yaitu:

1. Bahan payung (pada bagian batang ) sebaiknya cukup keras, tes keras atau tidaknya, bengkok atau tidaknya payung tersebut jika dipukulkan ke samsak dari arah samping; bentuk payung tersebut tidak akan berubah drastis (tidak patah atau bengkok drastis). Perlu di ingat bahwa faktor ini cukup penting, karena dalam keadaan taktis dan dinamis jika payung berubah bentuk dan tidak bisa digunakan untuk striking maka efektifitas payung tsb akan berkurang.

2. Panjang atau pendeknya payung. Hal ini tergantung pada taste, selera atau preferensi masing-masing pengguna. Namun secara umum jangan terlalu panjang dan terlalu pendek.

3. Aspek praktis: Seberapa mudahkah payung bisa dilipat dan dibawa jalan sehari-hari, perlu di ingat sekeras apapun payung yang anda bawa jika sulit untuk dilipat kembali atau dibawa maka payung tersebut kurang praktis bagi anda karena justru bisa memperlambat gerak gerik anda. Dan di situasi taktis segala sesuatu yang berhubungan dengan mobilitas baiknya tidak korbankan.

Payung dalam Sistim Seni Bela Diri

Sebagai alat pertahanan diri, dokumentasi penggunaan payung untuk self defense/ self protection sudah ada sejak tahun 1898 dimana seorang insinyur asal Inggris yang sempat tinggal di Jepang selama tiga tahun, mempelajari beberapa seni beladiri Jepang seperti Jujutsu, Judo, dan Kenjutsu.

Sepulang dari Jepang, Pak Edward William Wright kemudian memformulasikan sistim pertahanan diri yang dia sebut sebagai "Bartitsu" yang diartikan sebagai seni pertahanan diri metode Edward Wright.

Kurang lebih 3 atau 4 tahun yang lalu saya juga pernah melihat penggunaan payung sebagai alat self defense dalam satu demonstrasi Aikido dan Aikijujutsu, sehingga dalam budaya Timur dan Barat pun; payung pun sudah tercatat sebagai alat pertahanan diri yang patut dipertimbangkan.

Teknik teknik payung

Teknik teknik payung yang selama ini saya dokumentasi kebanyakan merupakan gabungan dari beberapa teknik namun teknik-teknik bayonet sangat cocok untuk teknik payung (Ada juga beberapa teman yang mengkombinasikan atau mengasimilasikan teknik FMA, Silat, Kung Fu dll ke teknik payung - sehingga teknik payung sangat fleksibel untuk menggunakan sistim apapun sebagai fondasinya).

Secara kurikulum pun, teknik payung juga lebih mudah diajarkan dan bisa dilakukan dalam waktu singkat karena mayoritas tekniknya menggunakan gross motor skills.

Di kesempatan posting berikutnya Insya Allah saya akan coba posting teknik payung dalam bentuk video.

Selamat berlatih

Be safe

Ueno



Tuesday, September 29, 2009

Multiple Opponent Survival


Salam pendekar

Sebelumnya saya ucapkan Selamat Hari Lebaran dan minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin! It's been a while!!! tapi akhirnya saya bisa meluangkan waktu untuk sharing beberapa tulisan, konsep dan ide mengenai studi pertahanan diri dan seni bela diri.


Kali ini saya akan melanjutkan artikel yang sebelumnya saya tulis di bulan Juni mengenai dinamika kelompok atau multiple opponent dynamics in self defense/ self protection. Atas permintaan beberapa teman, artikel kali ini akan membahas strategi-strategi spesifik dalam menghadapi keadaan multiple opponents atau yang lebih dikenal dengan istilah "keroyokan" dalam budaya lokal Indonesia.

Mindset & Situation


Secara tingkat kekerasan; situasi multiple opponents sarat dengan begitu banyak resiko bagi subyek yang menjadi fokus amukan, pukulan atau serangan. Secara matematis pun, semakin banyak jumlah tangan atau kaki dari lawan yang masuk ke dalam zona aktifitas (personal activity zone) semakin mempersulit keadaan dan meningkatnya tingkat bahaya.

Oleh karena itu, mindset menghadapi situasi keroyokan tentu harus terfokus pada survival atau bertahan hidup; karena anything less will result in serious injury for the subject being attacked.(Secara statistik penyerangan oleh kelompok lebih dari dua hingga tiga orang plus atau lebih; menyebabkan luka serius atau kematian pada subyek yang dikeroyok - Di beberapa negara seperti AS, Inggris dan Afrika Selatan, gang violence
is tied to increase in homicides: Adam Foxman,2008)

Teori ESCAPE

Teori ini adalah akronim dari singkatan yang bisa menjadi pedoman strategis menghadapin situasi keroyokan yakni:

Evade - Evading the situation and not having to engage in a multiple situation is best. Tapi bilamana situasi tidak terelak, maka "E" menjadi Effective Movement; moving yourself effectively to avoid being struck, grabbed, or take down. Hindari berada dalam posisi "segitiga" dimana dua lawan atau lebih bisa mengapit anda.

Superior striking skill -
Kemampuan untuk meng-KO atau merusak laju lawan atau momentum lawan (bisa dengan tangan kosong atau disarankan dengan menggunakan senjata - berhubungan dengan poin di bawah)

Constant Angle Shift and Angle of Attack: Merubah posisi atau melanjutkan agresi counter secara konstan (mirip dengan efektif movement tapi ini dalam konteks striking atau menyerang balik)

Power weapons/ tools: Idealnya adalah dalam kondisi keroyokan karena keadaan sudah tidak seimbang (dan berbahaya) deployment senjata adalah opsi yang baik untuk meningkatkan daya counter kita.


Dan terakhir adalah Escape, bagaimanapun kondisinya; bertahan dalam situasi keroyokan secara strategis tidaklah menguntungkan. Cepat atau lambat, the numbers will overwhelm you.

Semoga bermanfaat,

Be safe

Ueno
















Sunday, August 9, 2009

New Self Defense Indonesia Class Opening

New Self Defense Indonesia Class Opening

Location: Menara Kebon Sirih (MNC Tower)
Day: Wednesday
Time: 19:00 - 20:00
Class Description:

The home of Tactical Krav Maga training in Jakarta, Self Defense Indonesia brings you practical self-defense skills training and coaching. Our friendly, accessible classes are designed to accommodate individuals of various levels of skill and fitness. So whether you are new to self-defense training or are a professional in the field of law enforcement or security, you will find that our Tactical Krav Maga training will challenge you and provide you with the practical skills of self-defense.

Contact info:

info@selfdefenseindonesia.com

Joe "Ueno"

Monday, June 22, 2009

Stick Defense: Baton dan Pertimbangannya dalam Self Defense

Salam pendekar!


Kasus penggunaan tongkat/ baton/ stick pendek dalam keadaan nyata belum lama ini sempet terdokumentasikan oleh kantor berita AP dimana pada bulan April lalu, seorang gadis yang berusia 17 tahun hampir menjadi korban perampokan saat berjalan pulang seusai latihan marching band.

Hanya dengan bermodalkan insting "survival" dan gerakan-gerakan motorik kasar yang agresif, ia berhasil menetralisir kedua pria yang merampoknya dengan menggunakan baton marching bandnya sehingga memberikan peluang untuk lari dan meminta bantuan warga sekitar.

Efektifitas Baton

Sebagai senjata improvisasi atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai "improvised weapons" tongkat pendek atau baton mempunyai fungsi yang baik dan efektif sebagai impact weapon, force multiplier, distance controlling, control and restrain aid, and knife disarming.

Bukan tanpa alasan pihak kepolisan, penegak keamanan maupun satuan security sering kali membawa baton sebagai tools untuk mendukung tugas mereka sehari-hari.

Dari sekian tipe dan jenis baton adapun beberapa jenis yang saya rekomendasikan, selain memiliki kegunaan taktis yang baik, design baton juga cukup praktis dan kuat untuk digunakan atau dibawa dalam keadaan sehari-hari (although untuk yang satu ini ada baiknya anda berkonsultasi dahulu mengenai legalitas nya sesuai dengan yurisdiksi masing-masing).

No one size fits all rule

Penting untuk di ingat bahwa karena bedanya ukuran, besar, dan preferensi masing-masing individu; ukuran baton yang ideal bagi setiap orang relatif berbeda. Jadi hindari approach:
One size fits all, seperti baton kayu atau karet sintetis yang di wajibkan setiap anggota LAPD di sekitar tahun 60 - 80 an yang juga sering digunakan juga oleh satuan keamanan lokal.

Variasi ukuran yang available setahu saya ada dari ukuran 16"-31"namun untuk tactical purpose atau maksud taktis adapun ukuran yang di rekomen yaitu 19" - 22"

Pemilihan baton

Dalam memilih baton, pengalaman saya pribadi proses pemilihan baton juga mirip dengan pemilihan senpi laras pendek atau pisau untuk pertahanan diri sehingga adapun beberapa pertanyaan atau faktor yang perlu dipertimbangkan seperti:

Hitting power
Multiple strike capacity
Quick retract
Weight
Size
Maintenance
Concealed carry

Jawaban-jawaban di atas umumnya adalah jawaban dari perspektif pribadi sehingga lagi-lagi setiap individu pasti akan berbeda jawaban nya, although as a general rule the answers must revolve around (STATES):

Carrier's size, training, assignment, experience and strength.

Khusus untuk individu yang badan nya kecil atau untuk wanita saya lebih merekomendasikan baton dengan ukuran yang pendek, namun tetap dalam range 19" untuk memberi distancing yang baik jika memang harus digunakan dalam keadaan taktis.

The Three Kings

Dari sekian banyaknya baton, pilihan saya sejauh ini jatuh ke tiga tipe yang menurut saya secara kualitas mereka bisa diandalkan dan cukup tahan banting yaitu:

- American Security Procedures
- MLP Inc
- dan terakhir PeaceKeeper RCB atau (Rapid Containment Baton); khusus untuk yang satu ini menurut saya stopping powernya sangat baik namun dibandingkan dengan yang lain berat baton ini sedikit atau relatif lebih berat. Sehingga untuk individu yang badannya kecil, mungkin tidak akan begitu menyukai tipe ini, walaupun striking powernya lagi-lagi cukup menghentak!


Summary

Sebagai defensive tools dalam konteks pertahanan diri, penggunaan baton mempunyai fungsi yang apabila didukung dengan training yang baik sangat mendukung efektifitas dalam menangkal serangan atau menetralisir lawan.

Namun perlu di ingat bahwa at the end of the day, baton hanyalah tools dan prinsip carrier skill dan mentalitas; adalah lebih penting dibandingkan rasa ketergantungan atau dependancy ke satu tool yang dalam keadaan dinamis sering kali tidak bisa berjalan smooth layaknya saat latihan.

Be safe

Ueno








Sunday, June 21, 2009

Group Dynamics in Self Defense

Salam pendekar!

Posting kali ini akan membahas dinamika grup atau kelompok dalam situasi self defense atau pertahanan diri. Sebagaimana kita ketahui; dalam keadaan sehari-hari seringkali lawan yang dihadapai tidak hanya satu tapi antara 2 - 3 atau lebih. Bahkan menurut statistik yang saya attach di bawah, situasi multiple opponent jauh lebih sering kasusnya dibandingkan single (terkecuali untuk kasus women's self defense dimana secara mayoritas kasus multiple assailants/ opponents walau ada atau terjadi; namun tidak begitu mendominasi)

Data diambil dari:

[1] Jochelson, R. (1997). "Crime and Place: An Analysis of Assaults and Robberies in Inner Sydney". New South Wales Bureau of Crime Statistics and Research. [2] Scottish Executive Central Research Unit (2002). Violence in Scotland: Findings from the 2000 Crime Survey. [3] U.S. Department of Justice, Bureau of Justice Statistics, Criminal Victimization in the United States, 2001 Statistical tables, Tables 49 and 66 online.

Sebelum kita masuk ke materi inti, mari kita sedikit prologue dahulu dengan satu legenda yang juga secara tidak langsung berhubungan dengan diskusi kita kali ini.

Texas Ranger One Man Riot Squad


Cerita ini saya dapat dari seorang sahabat yang ketika itu kami masih kelas 4 SD, dan menurut teman saya (Scott) cerita ini kemudian berkembang menjadi legenda di kalangan penegak hukum di Texas.

Jauh sebelum kisah "Walker: Texas Ranger" tiba di Indonesia, saya seringkali mendengar cerita kepahlawanan para Texas Ranger dari teman saya Scott yang kebetulan juga pengagum Texas Ranger dan mempunyai kakek buyut yang juga mantan petugas Texas Ranger.

Dari sekian kisah sukses Texas Ranger, adapun satu cerita yang hingga kini menjadi legenda yaitu:
The Texas Ranger One Man Riot Squad

Menurut legenda yang beredar, ketika suatu huru hara terjadi di satu kota kecil dan mengingat terbatasnya manpower yang tersedia pada waktu itu, maka aparat penegak hukum hanya bisa mengirimkan tim kecil ke lokasi untuk menenangkan massa. Kebetulan di kota kecil ini hanya ada satu penegak hukum Texas Ranger yang tidak mau melupakan kewajiban abdi masyarakat nya sehingga ia pun turun tangan seorang diri untuk menenangkan huru hara di kota ini.

Setibanya di lokasi, sebagian individu atau gang yang sedang bersiap-siap untuk membuat keributan ter megap-megap dengan datang nya Texas Ranger ini seorang diri. Lantas satu orang pun bertanya terheran-heran:


“Only one Ranger?" dan sang Ranger pun dengan percaya diri menjawab: “You only have one riot, don’t you?"

Terlepas dari keberanian (atau mungkin kenekatan Ranger tsb.) reputasi Ranger pada masa tersebut terbentuk karena SOP mereka yang shoot first ask later, tapi juga proses seleksi mereka yang unik yaitu seleksi tiga pertanyaan untuk calon Ranger
  1. "Can you ride?"
  2. "Can you shoot?"
  3. and, "Can you cook?"
Namun atribut lain yang juga membuat Texas Ranger disegani adalah walaupun metode atau sistematika menghadapi multiple opponents dan huru hara tidak terdokumentasi (kecuali untuk kasus2 penembakan dll.) pengetahuan dan pemahaman dinamika kelompok lah yang konon membantu para Texas Ranger melaksanakan tugasnya karena mereka seringkali harus berhadapan dengan lebih dari dua atau tiga lawan.

Apakah group dynamics ini dalam situasi multiple opponents? Mari kita bahas

Group Types
Dalam situasi dimana sekelompok orang berkumpul, dinamika perilaku kita secara sadar atau tidak pasti akan mengalamai perubahan. Alasan paling sederhana yang saya kutip dari guru sejarah saya adalah: "People, influence each other ... just like a virus, anger, fear, spirit and the will to do can quickly change once you have a group of people together"

Adapun tipe-tipe kelompok berdasarkan cirinya yaitu:



  1. Casual: Kelompok dalam satu area namun kelompok tidak terfokus, terpecah dalam aktifitas masing-masing. Contohnya: Kerumunan di mall, kafe atau tempat umum lain.
  2. Cohessive: Kelompok yang karena stimulus internal atau eksternal berkumpul dan sekarang mulai memfokuskan diri bersama ke stimulus tersebut. Contoh: Perkelahian yang terjadi di jalan, tabrakan antar kendaraan atau hal lain yang menarik perhatian umum.
  3. Expressive: Kelompok setelah mendapat stimulus mulai berekspresi secara bersama apakah secara vokal, gerakan dll. Contoh: Sekerumunan orang yang sama-sama bilang "Jangan! jangan!" saat melihat ada anak kecil yang hendak dipukuli pipa besi oleh ayahnya yang mabuk dan kalap
  4. Aggressive: Kelompok atau kerumunan massa mulai memfokuskan energi mereka (frustrasi, marah, kesal dll.) dalam bentuk destruktif dan mulai merusak atau menghancurkan properti pribadi atau umum sebagai bentuk ketidak puasan
Konteks Self Defense

Dalam konteks self defense, kasus pengroyokan seringkali berkembang dari tahapan-tahapan atau berubah tipenya dari kelompok yang paling pasif casual ke aggressive karena adanya stimulus tambahan dari internal (dari group sendiri) atau eksternal (bisa dari kata-kata yang kita gunakan, body language dll.)

Therefore identifying atau mengidentifikasi kelompok manakah yang ada di hadapan kita menjadi proses yang penting karena sebagaimana kita ketahui multiple opponent dalam kehidupan nyata tidak seperti di film-film dimana setiap orang menunggu giliran sebelum menyerang lawan atau sang jagoan yang biasanya menghabisi musuh nya dalam hitungan detik.

Dalam bagian dua saya akan bahas lebih lanjut lagi karakter-karakter individu dalam berkelompok, dimana sedikit dari pengetahuan ini mudah-mudahan bisa anda terapkan seandainya terpojok ke dalam situasi multiple opponents dan segala opsi defensif, atau evasif sudah tidak memungkinkan. Dan harap di ingat approach preventif dan evasif harus menjadi prioritas utama karena ada beberapa situasi multiple opponents yang karena faktor lingkungan atau faktor lainnya adalah: no win solution

Sampai jumpa kembali di bagian 2 dan selamat berlatih,

Ueno