Monday, June 22, 2009

Stick Defense: Baton dan Pertimbangannya dalam Self Defense

Salam pendekar!


Kasus penggunaan tongkat/ baton/ stick pendek dalam keadaan nyata belum lama ini sempet terdokumentasikan oleh kantor berita AP dimana pada bulan April lalu, seorang gadis yang berusia 17 tahun hampir menjadi korban perampokan saat berjalan pulang seusai latihan marching band.

Hanya dengan bermodalkan insting "survival" dan gerakan-gerakan motorik kasar yang agresif, ia berhasil menetralisir kedua pria yang merampoknya dengan menggunakan baton marching bandnya sehingga memberikan peluang untuk lari dan meminta bantuan warga sekitar.

Efektifitas Baton

Sebagai senjata improvisasi atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai "improvised weapons" tongkat pendek atau baton mempunyai fungsi yang baik dan efektif sebagai impact weapon, force multiplier, distance controlling, control and restrain aid, and knife disarming.

Bukan tanpa alasan pihak kepolisan, penegak keamanan maupun satuan security sering kali membawa baton sebagai tools untuk mendukung tugas mereka sehari-hari.

Dari sekian tipe dan jenis baton adapun beberapa jenis yang saya rekomendasikan, selain memiliki kegunaan taktis yang baik, design baton juga cukup praktis dan kuat untuk digunakan atau dibawa dalam keadaan sehari-hari (although untuk yang satu ini ada baiknya anda berkonsultasi dahulu mengenai legalitas nya sesuai dengan yurisdiksi masing-masing).

No one size fits all rule

Penting untuk di ingat bahwa karena bedanya ukuran, besar, dan preferensi masing-masing individu; ukuran baton yang ideal bagi setiap orang relatif berbeda. Jadi hindari approach:
One size fits all, seperti baton kayu atau karet sintetis yang di wajibkan setiap anggota LAPD di sekitar tahun 60 - 80 an yang juga sering digunakan juga oleh satuan keamanan lokal.

Variasi ukuran yang available setahu saya ada dari ukuran 16"-31"namun untuk tactical purpose atau maksud taktis adapun ukuran yang di rekomen yaitu 19" - 22"

Pemilihan baton

Dalam memilih baton, pengalaman saya pribadi proses pemilihan baton juga mirip dengan pemilihan senpi laras pendek atau pisau untuk pertahanan diri sehingga adapun beberapa pertanyaan atau faktor yang perlu dipertimbangkan seperti:

Hitting power
Multiple strike capacity
Quick retract
Weight
Size
Maintenance
Concealed carry

Jawaban-jawaban di atas umumnya adalah jawaban dari perspektif pribadi sehingga lagi-lagi setiap individu pasti akan berbeda jawaban nya, although as a general rule the answers must revolve around (STATES):

Carrier's size, training, assignment, experience and strength.

Khusus untuk individu yang badan nya kecil atau untuk wanita saya lebih merekomendasikan baton dengan ukuran yang pendek, namun tetap dalam range 19" untuk memberi distancing yang baik jika memang harus digunakan dalam keadaan taktis.

The Three Kings

Dari sekian banyaknya baton, pilihan saya sejauh ini jatuh ke tiga tipe yang menurut saya secara kualitas mereka bisa diandalkan dan cukup tahan banting yaitu:

- American Security Procedures
- MLP Inc
- dan terakhir PeaceKeeper RCB atau (Rapid Containment Baton); khusus untuk yang satu ini menurut saya stopping powernya sangat baik namun dibandingkan dengan yang lain berat baton ini sedikit atau relatif lebih berat. Sehingga untuk individu yang badannya kecil, mungkin tidak akan begitu menyukai tipe ini, walaupun striking powernya lagi-lagi cukup menghentak!


Summary

Sebagai defensive tools dalam konteks pertahanan diri, penggunaan baton mempunyai fungsi yang apabila didukung dengan training yang baik sangat mendukung efektifitas dalam menangkal serangan atau menetralisir lawan.

Namun perlu di ingat bahwa at the end of the day, baton hanyalah tools dan prinsip carrier skill dan mentalitas; adalah lebih penting dibandingkan rasa ketergantungan atau dependancy ke satu tool yang dalam keadaan dinamis sering kali tidak bisa berjalan smooth layaknya saat latihan.

Be safe

Ueno








Sunday, June 21, 2009

Group Dynamics in Self Defense

Salam pendekar!

Posting kali ini akan membahas dinamika grup atau kelompok dalam situasi self defense atau pertahanan diri. Sebagaimana kita ketahui; dalam keadaan sehari-hari seringkali lawan yang dihadapai tidak hanya satu tapi antara 2 - 3 atau lebih. Bahkan menurut statistik yang saya attach di bawah, situasi multiple opponent jauh lebih sering kasusnya dibandingkan single (terkecuali untuk kasus women's self defense dimana secara mayoritas kasus multiple assailants/ opponents walau ada atau terjadi; namun tidak begitu mendominasi)

Data diambil dari:

[1] Jochelson, R. (1997). "Crime and Place: An Analysis of Assaults and Robberies in Inner Sydney". New South Wales Bureau of Crime Statistics and Research. [2] Scottish Executive Central Research Unit (2002). Violence in Scotland: Findings from the 2000 Crime Survey. [3] U.S. Department of Justice, Bureau of Justice Statistics, Criminal Victimization in the United States, 2001 Statistical tables, Tables 49 and 66 online.

Sebelum kita masuk ke materi inti, mari kita sedikit prologue dahulu dengan satu legenda yang juga secara tidak langsung berhubungan dengan diskusi kita kali ini.

Texas Ranger One Man Riot Squad


Cerita ini saya dapat dari seorang sahabat yang ketika itu kami masih kelas 4 SD, dan menurut teman saya (Scott) cerita ini kemudian berkembang menjadi legenda di kalangan penegak hukum di Texas.

Jauh sebelum kisah "Walker: Texas Ranger" tiba di Indonesia, saya seringkali mendengar cerita kepahlawanan para Texas Ranger dari teman saya Scott yang kebetulan juga pengagum Texas Ranger dan mempunyai kakek buyut yang juga mantan petugas Texas Ranger.

Dari sekian kisah sukses Texas Ranger, adapun satu cerita yang hingga kini menjadi legenda yaitu:
The Texas Ranger One Man Riot Squad

Menurut legenda yang beredar, ketika suatu huru hara terjadi di satu kota kecil dan mengingat terbatasnya manpower yang tersedia pada waktu itu, maka aparat penegak hukum hanya bisa mengirimkan tim kecil ke lokasi untuk menenangkan massa. Kebetulan di kota kecil ini hanya ada satu penegak hukum Texas Ranger yang tidak mau melupakan kewajiban abdi masyarakat nya sehingga ia pun turun tangan seorang diri untuk menenangkan huru hara di kota ini.

Setibanya di lokasi, sebagian individu atau gang yang sedang bersiap-siap untuk membuat keributan ter megap-megap dengan datang nya Texas Ranger ini seorang diri. Lantas satu orang pun bertanya terheran-heran:


“Only one Ranger?" dan sang Ranger pun dengan percaya diri menjawab: “You only have one riot, don’t you?"

Terlepas dari keberanian (atau mungkin kenekatan Ranger tsb.) reputasi Ranger pada masa tersebut terbentuk karena SOP mereka yang shoot first ask later, tapi juga proses seleksi mereka yang unik yaitu seleksi tiga pertanyaan untuk calon Ranger
  1. "Can you ride?"
  2. "Can you shoot?"
  3. and, "Can you cook?"
Namun atribut lain yang juga membuat Texas Ranger disegani adalah walaupun metode atau sistematika menghadapi multiple opponents dan huru hara tidak terdokumentasi (kecuali untuk kasus2 penembakan dll.) pengetahuan dan pemahaman dinamika kelompok lah yang konon membantu para Texas Ranger melaksanakan tugasnya karena mereka seringkali harus berhadapan dengan lebih dari dua atau tiga lawan.

Apakah group dynamics ini dalam situasi multiple opponents? Mari kita bahas

Group Types
Dalam situasi dimana sekelompok orang berkumpul, dinamika perilaku kita secara sadar atau tidak pasti akan mengalamai perubahan. Alasan paling sederhana yang saya kutip dari guru sejarah saya adalah: "People, influence each other ... just like a virus, anger, fear, spirit and the will to do can quickly change once you have a group of people together"

Adapun tipe-tipe kelompok berdasarkan cirinya yaitu:



  1. Casual: Kelompok dalam satu area namun kelompok tidak terfokus, terpecah dalam aktifitas masing-masing. Contohnya: Kerumunan di mall, kafe atau tempat umum lain.
  2. Cohessive: Kelompok yang karena stimulus internal atau eksternal berkumpul dan sekarang mulai memfokuskan diri bersama ke stimulus tersebut. Contoh: Perkelahian yang terjadi di jalan, tabrakan antar kendaraan atau hal lain yang menarik perhatian umum.
  3. Expressive: Kelompok setelah mendapat stimulus mulai berekspresi secara bersama apakah secara vokal, gerakan dll. Contoh: Sekerumunan orang yang sama-sama bilang "Jangan! jangan!" saat melihat ada anak kecil yang hendak dipukuli pipa besi oleh ayahnya yang mabuk dan kalap
  4. Aggressive: Kelompok atau kerumunan massa mulai memfokuskan energi mereka (frustrasi, marah, kesal dll.) dalam bentuk destruktif dan mulai merusak atau menghancurkan properti pribadi atau umum sebagai bentuk ketidak puasan
Konteks Self Defense

Dalam konteks self defense, kasus pengroyokan seringkali berkembang dari tahapan-tahapan atau berubah tipenya dari kelompok yang paling pasif casual ke aggressive karena adanya stimulus tambahan dari internal (dari group sendiri) atau eksternal (bisa dari kata-kata yang kita gunakan, body language dll.)

Therefore identifying atau mengidentifikasi kelompok manakah yang ada di hadapan kita menjadi proses yang penting karena sebagaimana kita ketahui multiple opponent dalam kehidupan nyata tidak seperti di film-film dimana setiap orang menunggu giliran sebelum menyerang lawan atau sang jagoan yang biasanya menghabisi musuh nya dalam hitungan detik.

Dalam bagian dua saya akan bahas lebih lanjut lagi karakter-karakter individu dalam berkelompok, dimana sedikit dari pengetahuan ini mudah-mudahan bisa anda terapkan seandainya terpojok ke dalam situasi multiple opponents dan segala opsi defensif, atau evasif sudah tidak memungkinkan. Dan harap di ingat approach preventif dan evasif harus menjadi prioritas utama karena ada beberapa situasi multiple opponents yang karena faktor lingkungan atau faktor lainnya adalah: no win solution

Sampai jumpa kembali di bagian 2 dan selamat berlatih,

Ueno