Wednesday, May 13, 2009

Menghadapi EDP & Pentingnya "Presence" Dalam Self Defense

Salam! setelah tiga bulan absen dari blog ini karena kesibukan kantor, coaching di Self Defense Indonesia, dan membantu proyek di Assessment Group Indonesia senang sekali saya bisa menulis kembali di blog ini dengan materi pertahanan diri (self defense/ self protection) yang terbaru.

Post kali ini membahas tentang pentingnya "presence" dalam pertahanan diri, dan kali ini penjelasan akan diberikan oleh Bapak J. Sanstrom yang memiliki pengalaman sebagai pengajar staff kesehatan, ahli jiwa dan kepolisian di Amerika.

Bagian kedua adalah penjelasan tentang korelasi "presence" dalam konteks pertahanan diri di kehidupan nyata atau sehari-hari. Mari kita dengarkan dahulu penjelasan dari Bapak J. Sanstrom


video

Presence in Self Defense

Konsep tentang "presence" dalam self defense pertama kali muncul ketika saya berdiskusi dengan seorang teman wanita di kantor, yang begitu sibuk mondar mandir kemana pun ia pergi dengan "sahabat" terbarunya yaitu: Blackberry

Singkat cerita teman saya ini sharing bahwa beberapa hari yang lalu dia sempet "dikagetkan" oleh seseorang yang ngga dikenal di sebuah kafe di Jakarta. Walaupun pria tersebut ternyata tidak mempunyai niat jelek tapi hanya ingin berkenalan namun teman wanita saya merasa bahwa "personal space" dia terlalu dekat sehingga teman saya merasa cukup risih (apalagi orang tersebut adalah orang yang belum pernah ia kenal)

Dari kejadian ini lantas dia bertanya, apakah hal tsb. terjadi karena kurangnya "situational awareness" karena begitu sibuknya ia menjawab chat atau sms di Blackberry nya? saya bilang memang unsur "situational awareness" ada tapi setelah melihat bahasa tubuh dia, ekpresi muka dan lain-lain... faktor presence juga ambil bagian.

Lantas seberapa pentingkah presence?

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sanstrom, presence adalah elemen pelengkap di konsep situational awareness yang memberikan "image" tentang diri kita secara eksternal.

Hal ini perlu di ingat, karena pelaku kejahatan/ kriminal juga melihat sisi eksternal kita dan juga "presence" kita (bahasa tubuh, ekpresi muka, cara berpakaian, cara bicara dll.) sebelum melakukan aksinya.

Tentu ini tidak berarti kita harus bermuka tegang, dan berbicara kasar kepada setiap orang yang kita tidak kenal (hal ini justru kontra produktif - karena aggressive behavior attracts aggressive attitude/ people and consequently violent behaviors or actions) tapi yang saya maksud adalah dalam keseharian kita perlu asertif, percaya diri, dan membawa diri yang baik (tidak hanya perilaku dan kata tapi juga pakaian) karena elemen-elemen kecil ini percaya atau tidak mempunyai andil juga dalam
scope self defense.

Semoga bermanfaat dan selamat berlatih!

Ueno