Thursday, December 18, 2008

Third Party Intervention



Berikut saya attach cuplikan informasi ringkas mengenai third party intervention atau intervensi pihak ketiga dimana anda mungkin harus turun tangan untuk menengahi, de eskalasi atau aktif secara fisik karena bahaya yang terjadi dari situasi yang ada sudah tidak imbang atau membahayakan bagi pihak yang terlibat dalam konfrontasi tersebut. Perlu di ingat bahwa third party intervention memerlukan pertimbangan taktis tersendiri dan perlu di approach dengan hati-hati layaknya situasi self defense lainnya, tapi bilamana anda harus terlibat dalam urusan third party intervention semoga tips dan konsep singkat di bawah bisa membantu anda.


Dari sifatnya third party intervention itu bisa di breakdown menjadi:

- Accidental
- Situational
- Critical

Accidental: situasi dimana dalam proses eskalasi/ konfrontasi anda muncul di saat yang tidak di rencanakan. Singkatnya: "Being at the wrong place at the wrong time". Contoh kasus: Duduk di kursi kafe yang ternyata, di kursi depan kita sepasang kekasih sedang hebat2 nya argumen sampe keluar kata2 kasar.

Situational: situasi dimana dalam proses eskalasi/ konfrontasi anda berada di saat yang mungkin tidak direncanakan tapi anda harus tetap di lingkungan tersebut karena satu kewajiban. Contoh kasus: Bekerja di cubicle kantor dan tiba2 ada rekan yang mulai teriak2 dan maki2 atasan, dan mulai melempar barang. You have to be there because ... HECK you WORK THERE (haha) ... and something (argument/ conflict) just happened. Atau anda bekerja di sektor pengamanan dan memang tugas anda untuk mengamankan jiwa/ barang/ properti dll.

Critical: situasi ini bisa merupakan kombinasi antara situasi accidental dan situational tapi bisa juga stand alone, tapi yang membedakan adalah tingkat bahaya sudah pada level extreme dan sifat bahaya sudah mengancam jiwa (individu, kelompok atau lingkungan). Contoh kasus: Penyanderaan yang tingkat eskalasi (komunikasi, body language, psikologi) tinggi, atau pembajakan kendaraan/ properti case example bus/ airplane hijacking.

In short: You're there and the situation has deteriorated so bad that injury or death is not only upon you but EVERYBODY within the area of danger or the activity zone.

Assessment is a critical phase in any Third Party Intervention because during this phase, options or action plans are developed in relation to the situation at hand. Whatever the scenario; calling for assistance in most (if not the majority) of TPI situations is important, as this process helps or increases your safety which in turn will help diminish the threat.

Briefly: " How are you going to help? if it results in your own injury or death which will stop the TPI process " therefore assistance must be called upon, and this may be in the form of:

1. a legal security body/ group (Police, Security Services etc.) or
2. assistance in the form of mass/ numbers.
3. assistance in the form of specialty
4. assistance in the form of close connection

Jadi secara singkat intervensi pihak ketiga sebaiknya di lakukan dalam satu atau semua koridor tersebut karena semakin banyak elemen yang bisa kita sertakan dalam proses TPI semakin mudah untuk menetralisir suasana tersebut.

Tuesday, December 2, 2008

Quick Tip: Self Defense & Ground Management

Quick Tip: Self Defense

Attached adalah beberapa guideline ringkas tentang self defense yang merupakan kelanjutan dari thread di kaskus (http://kaskus.us/showthread.php?t=1218532) yang di post oleh teman saya Rey Demesco yang juga adalah praktisi arnis de mano. Akronim yang saya gunakan CODE DTMS yaitu, control the distance, decide now, dont trashtalk, multiples, and stand up (keep it standing up)

  • Control the distance : Me-manage jarak aman anda agar terhindar dari bahaya dan jarak efektif lawan untuk mukul, tendang, dorong, pull dll.
  • Decide now : Artinya buatlah keputusan segera apakah anda akan engage atau disengange karena secara taktis saat anda sudah membuat keputusan proses plan of action berjalan, dan options atau alternatif resolusi lainnya bisa menjadi available.
  • Don’t trashtalk : Saya pribadi bukan tipe yang suka menggunakan kata-kata kasar atau caci maki saat konfrontasi/ eskalasi karena biasanya saat adu lempar kata-kata caci maki manajemen jarak dll. menjadi kurang optimal, jadi penggunaan body language yang pacifying dan kata-kata yang diffusive, dan tegas lebih efektif dibandingkan dengan adu mulut untuk melindungi ego pribadi.
  • Multiples: Konfrontasi dengan dua orang atau lebih secara umum meningkatkan risiko dan agresifitas pihak yang berkelompok yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai wolf pack mentality. Studi menunjukkan bahwa gang attacks mempunyai risiko bahaya dan level agresi yang lebih tinggi dan lebih sukar dikendalikan sehingga dalam situasi seperti ini konfrontasi langsung bukanlah pilihan utama.
  • Stand up: Satu studi dari seorang Asisten Profesor di Middle George College Dr. B. Akil menunjukkan bahwa secara statistik 72 % orang jatuh ke ground saat perkelahian, dan 42 % kasus kedua belah pihak jatuh ke ground saat perkelahian dimana secara rata-rata 57 % jatuh karena di tarik, tersandung atau di banting dan 35 % jatuh karena terkena pukulan atau benda keras. Yang menarik, pihak pertama yang jatuh ke ground 59 % tidak berhasil dalam me manage konfrontasi/ agresi yang terjadi. Kesimpulan singkat dari statistik ini adalah :

1. Fights do go the ground; hanya saja secara statistik angka rata-rata adalah 70 % yang jatuh akibat pukulan tangan kosong/ benda keras, tarikan atau bantingan.

2. Ground knowledge is worth learning; mengutip statistik yang sudah saya sebutkan di atas, dengan mempelajari, mengerti dan menguasai teknik ground, kemungkinan untuk melanjutkan atau menetralisir agresi lawan lebih baik ketimbang tidak mempunyai basic ground sama sekali

3. Counter hit; alias belajar meng-counter serangan tangan kosong karena dalam kasus-kasus yang terjadi pukulan yang mengakibatkan KO mengharuskan pihak yang jatuh untuk memanage konflik dari posisi bawah.

4. Fights are incubated; Artinya berdasarkan pengalaman, analisa, dan observasi suatu perkelahian tidak terjadi “begitu saja” kecuali yang sifatnya adalah gang predatorial attack. Dan di mayoritas kasus perkelahian selalu ada celah untuk mencegah perkelahian itu terjadi.

Semoga bermanfaat
Ueno