Wednesday, April 18, 2007

The Most Dangerous Opponent

Salam Budo!



Sengaja saya post gambar salah satu petarung top dunia yaitu Kazushi Sakuraba sebagai ilustrasi opening artikel saya kali ini. Bagi para penggemar olahraga mixed martial arts popularitas Master Sakuraba ini mungkin sejajar dengan band papan atas internasional yang sudah berkali-kali memenangkan award. Dan walaupun beliau terkenal sebagai petarung mixed martial arts yang tidak hanya intelijen dalam pertarungannya, cepat, gesit dan tenang di dalam menghadapi lawannya namun sosok lawan yang lebih berbahaya dalam dunia nyata sehari-hari bagi saya pribadi bukanlah Master Sakuraba.

Musuh mematikan ini, juga berbeda dengan musuh dalam diri kita yang berbentuk seperti ignorance, ego, arrogance, and over confidence dimana musuh-musuh ini bisa di manage sendiri atau bersama secara bertahap. Namun musuh ini jika boleh, saya ibaratkan seperti guntur menggelegar yang “mampir” untuk bersalaman dengan pohon di lapangan terbuka yang penuh dengan orang-orang yang sedang berpesta.


Kejadian di Virginia Tech University di Amerika memang mengejutkan banyak pihak, bagaimana tidak? Dalam sejarah Amerika belum pernah seorang mengamuk dan menembak secara membabi buta dan menewaskan sekian banyak orang, terutama sejak kejadian Columbine High School masih membekas di ingatan sebagaian besar warga Amerika. Namun setelah dianalisa rentetan peristiwa sebelum dan sesudah kejadian biadab tersebut, pattern yang muncul, tanda-tanda yang mengarah pada kejadian tersebut bukan tanpa kebetulan bisa kita temukan. (Gavin de Becker – ahli kekerasan antar personal)

Lalu siapakah musuh mengerikan ini? Musuh ini adalah indivu sociopath yang tidak berperasaan, tidak peduli, tidak mempunyai emosi, dan tidak memberi anda peringatan apa pun... Dia pun tidak mengenal istilah maita, tap out ! atau piudad yang dalam Bahasa Spanyol berarti "ampun !! jangan sakiti saya !!" ... namun musuh mematikan ini tidak ragu sedikitpun untuk menghampiri anda dan mencolok mata anda sambil mengayunkan atau menggunakan senjatanya di setiap orang yang kebetulan dia jumpai.

Sebagai seniman bela diri tentu konsep awareness (physical, mental and emotional) sudah tidak asing lagi dimana aspek itu kita latih terus agar bisa peka atau sensitive terhadap perubahan kecil yang terjadi pada lawan kita. Apakah adanya pergeseran angle bahu, body positioning, posisi tangan atau kaki lawan , gerakan lawan sekecil apapun yang terdeteksi kita manfaatkan untuk melancarkan counter balik yang efektif dan menetralisir lawan.

Menginjak kaki keluar dojo dan melangkah maju dalam keseharian kita, konsep awareness ini terus kita bawa karena dari pengalaman kita sebagai praktisi, kita pun mengerti dengan dipegangnya, diingatnya awareness ini, reaction kita menjadi lebih tajam. Walau hanya sepersekian detik saja, reaksi ini dalam dunia nyata bisa mengubah segalanya.

Dengan lawan seperti itu? Dan situasi demikian? Apa yang bisa kita lakukan untuk mempertajam reaksi kita untuk menghadapi skenario terburuk seperti yang saya sebutkan diatas ?

Berikut beberapa drill yang yang mugkin bisa anda tambahkan ke dalam repertoire latihan anda yang saya harap bisa membantu mengasah reaction anda dalam konteks self defense/ self protection.

Drill pertama

(Physical)

Free flow hand to hand combat

Drill ini bertujuan untuk mengasah kemampuan fisik anda dan memprogram otak dan tubuh anda untuk merespon terhadap beberapa jenis serangan yang berbeda.

Untuk latihan ini anda perlu 3-5 orang yang akan berperan sebagai musuh dan anda berdiri di tengah, dan “musuh” anda mencoba menyerang anda secara bergantian untuk pemula dan anda bereaksi dengan menetralisir serangan lawan dengan teknik yang sederhana namun juga HARUS efektif. Sebagai catatan anda tidak perlu terburu buru dahulu dalam melakukan teknik anda. Cukup perlahan lahan dahulu agar otak dan gerakan motoriknya terekam secara baik, dan bila anda sudah lancar dan tidak ada “keraguan” dalam eksekusi teknik silahkan anda akselerasi kecepatan serangan dan teknik. Lakukan sesi ini berulang kali, dan bagi pemula karena umumnya ada jeda waktu antara reaction dan technical action cobalah dahulu dengan 1-2 lawan.

Umumnya setiap seni bela diri, apakah itu silat, jujutsu, aikido dan karate mempunyai versi mereka sendiri drill ini dan namanya pun untuk setiap style berbeda-beda namun dengan tujuan yang sama: mengasah reaksi fisik teknik anda, dan meningkatkan flow atau kesinambungan teknik dari satu ke yang lain.

Mohon di ingat bahwa drill ini hanya untuk mempertajam reaksi fisik teknis anda, harap di ingat bahwa dalam skenario seperti yang saya sebut diatas asset terpenting anda adalah correct breathing, focused calm (calm over chaos), improvised weapons, diversion tactics and strategic evasion tactics, dimana anda harus berusaha keras untuk memblokir atau menetralisir laju penyerangan dengan menghalangi atau menggunakan benda ataupun medan sekitar secara taktis. Namun bila keadaan terdesak, atau anda melihat adanya kesempatan dan anda sudah memutuskan untuk menetralisir lawan maka lakukanlah! Meminjam kalimat Bas Rutten: “In self defense there are no full proof scenarios, BUT it’s better to TRY than NOT try at ALL”

Metode free flow ini juga sebaiknya dilakukan secara spontan mirip layaknya randori di seni judo, jujutsu, BJJ atau MMA namun tentu anda diperbolehkan menggunakan seluruh teknik dan asset yang anda miliki. Dan ada baiknya pula walau anda mengeksekusi teknik secara full speed agar tetap hati-hati.

Drill kedua

(Mental – Physical)

Situational

Drill ini mirip dengan drill pertama namun di fase ini elemen-elemen seperti emosi lawan, teriakan, perlakuan atau kata-kata agresif lainnya di include ke dalam sesi latihan free flow. Details pun juga sedikit berbeda karena di tahap ini, kita mencoba untuk merekayasa adegan sehari-hari mengenakan pakaian biasa dan berjalan membawa tas dan diserang tiba-tiba sebagai contoh.


Drill ini bertujuan untuk menstimulasi emosi kita, karena biar bagaimana pun emosi kita tetap harus terjaga walaupun anda berada dalam tekanan psikologis. Tidak salah bila Bruce Lee berkata: “Anger blinds!”. Jangan terjebak di downward spiral dimana anda sudah kehilangan kendali motorik anda dan apapun yang anda lakukan pada titik ini sudah tidak efektif lagi.

Pada fase ini alangkah baiknya juga jika latihan bisa dilaksanakan dengan full armor body protector, sehingga akselerasi eksekusi teknik bisa hampir sama dengan keadaan yang sebenernya.

Harap di ingat sekali lagi bahwa kedua drill ini adalah sebagian kecil dari drill yang bisa mengasah kemampuan anda karena masih banyak drill lain seperti: duck and cover, interview drill, pre emptive striking drill, fright reaction drill dan masih banyak lagi yang tentu cukup untuk menulis satu bab buku spesifik untuk aspek ini. Namun paling tidak drill diatas bisa dijadikan metode alternatif dalam latihan anda.

Semoga kejadian Virginia Tech ini tidak terulang kembali dimanaoun itu namun mari kita ambil juga pelajaran tersirat dalam kejadian ini yaitu: “Jangan sekali kalinya meremehkan lawan anda!”. Seperti diberitakan oleh media massa tentu banyak yang kaget bahwa pelaku penembakan ternyata tidak bermuka seram, bengis, bertato dan anggota gang. Namun pelaku ternyata anak muda yang stress, depresif dan kehilangan simpati hidup di tengah kerasnya dunia pergaulan anak muda yang semakin hedon, konsumtif dan matrealisitis. Kita juga patut bersyukur bahwa peredaran senjata api di Indonesia dibatasi! karena melihat keadaan sehari-hari, dengan kondisi kota “keras” seperti Jakarta, dan tidak sedikit orang yang stress karena sulitnya hidup di kota metropolitan, sulitnya mencari pekerjaan... bisa anda bayangkan betapa tegangnya bila anda harus bermacet-macet ria sedangkan senjata api dijual bak kacang rebus.

Sebelum saya undur pamit ijinkan saya berbagi satu pepatah bijak dari Kaisar Ichijo Jepang (986-1011) dan terkenal karena pasukan samurainya yang luhur.

“Dalam pembuatan(penciptaan) pedang sebenarnya terdapat sesuatu yang agung, suci dan esa. Sang pemilik maupun pengguna (pedang) haruslah menjadi bagian dari inspirasi maha karya ini. Oleh karena itu ia (sang kesatria) haruslah menjadi manusia spiritual bagi dunia-nya dan bukan agen kekerasan dan kehancuran"

Train hard, train smart and be safe!

Uno